LAMONGAN, Radarlamongan.co - Sembilan manuskrip beralas kain putih terjajar rapi di atas meja dengan alas warna hijau.
Manuskrip yang terbuat media daluang, lontar, dan kertas linen ini memiliki tulisan yang bervariatif, ada yang berbahasa Arab atau pegon bahasa Jawa, aksara Bali, aksara bahasa sasak, dan aksara carakan berbahasa Jawa. Mulai dari abad ke-17, abad ke-19, Tahun 1911, dan sebagainya.
Sembilan manuskrip ini merupakan koleksi Manuskripedia yang disimpan Diaz Nawaksara. Seluruhnya dipamerkan dalam acara pameran naskah kuno dan peresmian pusat studi Unisla, Sabtu (15/2).
Diaz Nawaksara bersama Wahyu Muryadi meresmikan Yayasan Manuskripedia sejak Tahun 2022. Namun, mereka sudah mulai menginventarisasi naskah Nusantara sejak Tahun 2020. Total, koleksi manuskip di Manuskripedia ada sekitar 500 manuskrip.
‘’Barangkat dari keresahan dan satu gagasan yang sama, yaitu menyelamatkan naskah-naskah. Kami memandang bahwa banyak naskah yang dibawa ke luar negeri, entah itu dijual kah atau dengan cara apapun,’’ terang pria asal Desa Dagan, Kecamatan Solokuro tersebut.
Dia berburu manuskrip dengan langsung ke pemilik naskah, atau terkadang terpaksa harus ikut lelang. Tantangannya harus bersaing harga tinggi denganpembeli dari luar negeri.
‘’Tantangan yang kedua dalam mencari naskah, tidak selalu dapat naskah yang bagus, yang ketiga masalah perawatan naskah itu cukup berat ,’’ ucap Diaz.
Manuskrip ini sebagian besar dari Lombok suku sasak, Bali, Jawa, dan selebihnya pegon. Isinya ada yang berkaitan sejarah keilmuan, mistik, kesenian, dan ada kitab-kitab pesantren.
‘’Naskah yang paling tua kurang lebih dari abad ke-17, yang paling tua itu di Tahun 1600-an,’’ ujarnya.
Manuskrip paling tua terkait ajimat dan keilmuan pesantren. Ada juga Barathayuddha dari abad ke-11. Namun timnya hanya ada salinan.
Untuk perawatan masih alakadarnnya, yakni disimpan dari tempat kering, tidak lembab. Kemudian sebulan sekali dipindah agar tempat tidak terkena rayap.
‘’Dan itu yang cukup membutuhkan effort (usaha) ya, Karena harus membersihkan, yang membaca ya membersihkan, yang mengamankan dan segala hal,’’ katanya.
Founder Manuskripedia, Wahyu Muryadi menjelaskan, Manuskripedia didirikan untuk menjaga dan merawat manusksip.
Khususnya manuskrip kuno Nusantara, hasil dari pemikiran empu-empu penulis, nenek moyang warga Indonesia yang usianya sudah berabad-abad.
‘’Untuk kepentingan bangsa dan negara dalam pembentukan karakter anak bangsa Indonesia,’’ imbuhnya.
Menurut dia, banyak naskah kuno yang ada di luar negeri. Sehingga, pihakya mendorong pemerintah untuk melakukan perjanjian repatriasi (pemulangan kembali ke tanah air).
Tujuannya untuk meminta kembali manuskrip, artefak, maupun barang penting milik Nusantara.
‘’Sudah terjadi nih belum lama ini kan sudah ada kira-kira 700-an manuskrip yang dikembalikan dari Belanda ke Indonesia, tapi di Inggris belum, di Prancis belum, di Italia belum banyak,’’ katanya. (sip/ind)
Editor : Anjar D. Pradipta