radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Memasuki akhir periode panen raya tebu, harga komoditas bahan baku gula tersebut merangkak naik.
Jika awal tebang harganya Rp 64 ribu per kuintal, maka sekarang bisa menyentuh Rp 84 ribu sampai Rp 95 ribu per kuintal.
Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Lamongan, Bakrudin Zuhri, menjelaskan, periode panen tebu biasanya sampai September.
Baca Juga: Dukung Swasembada Gula, Bupati Yes Siap Fasilitasi Modernisasi dan Pupuk Petani Tebu
Setelah itu, tinggal giling. Waktu giling membutuhkan penyesuaian karena mengikuti antrean di pabrik
Berdasarkan data dinas, realisasi luas panen tebu tercatat sudah mencapai 2.083 hektare.
Jumlah itu sudah separo lebih dari luas tanam yang sekitar 3.200 hektare.
Baca Juga: Luas Tanam Tebu di Kabupaten Lamongan tak Berubah, Ini Kecamatan Terbanyak Produksinya
"Kita belum ada perluasan, namun untuk petani tebu ini tidak akan beralih karena kawasannya sudah cocok untuk komoditi tersebut," jelas Bakrudin.
Dia mengatakan, sebagian petani tebu Lamongan sudah bermitra dengan pabrik.
Seluruh hasil panen dipastikan terserap, mulai dari tingkat rendemen terendah di angka 7 hingga yang tertinggi mencapai 9.
Harganya menyesuaikan tingkat rendemen masing-masing, tetapi secara kualitas tergolong hampir sama.
Bakrudin menjelaskan, rencana yang bongkar ratoon tahun ini ada 1.385 hektare.
Metode rawat ratoon masih bisa diterapkan sebanyak empat hingga lima kali masa panen.
Karena komoditas ini hanya dipanen satu kali dalam setahun, keterjangkauan harga menjadi kunci utama keberlangsungan usaha petani.
Pemkab Lamongan terus berusaha untuk membantu pembibitan, hingga mendorong ketersediaan pupuk bersubsidi dengan harapan bisa swasembada gula.
Menurut Bakrudin, akses jalan perkebunan juga terus diperbaiki. "Kita upayakan agar harga tebu tinggi, petani untung, dan semangat tanam lagi," tuturnya. (rka/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma