radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Lamongan selama ini lebih dikenal sebagai salah satu daerah dengan populasi sapi potong besar di Jawa Timur. Namun, di balik dominasi sapi, ada potensi peternakan lain yang tak kalah menarik: kambing dan domba. Populasinya terus tumbuh dan pasarnya relatif terbuka. Bahkan, menjelang Idul Adha, kebutuhan hewan kurban dari dua jenis ternak tersebut mampu disokong oleh produksi lokal.
‘’Populasi ternak domba dan kambing di Lamongan cukup besar dan masih terus berkembang,’’ kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lamongan Shofiah Nurhayati.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peternakan ruminansia kecil bukan lagi sekadar usaha sampingan masyarakat, tetapi berpotensi menjadi sumber pendapatan ekonomi pedesaan.
Baca Juga: Mengenal Jenis Domba Dorper Fullblood, Per Ekor Dibadrol Hingga Puluhan Juta
Data terbaru memperkuat pernyataan tersebut. Berdasarkan data 2026, populasi Lamongan mencapai 97.288 ekor kambing dan 86.319 ekor domba. Jika digabung, jumlahnya mencapai 183.607 ekor. Angka itu meningkat dibandingkan data 2025 yang mencapai 176.578 ekor kambing dan domba. Artinya, dalam setahun terdapat pertumbuhan sekitar 4 persen.
Yang lebih menarik adalah kekuatan pasarnya. Pada Idul Adha 2026, berdasarkan pemantauan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lamongan, terdapat 19.579 kambing dan 10.788 domba yang dipotong sebagai hewan kurban. Totalnya mencapai 30.367 ekor. Jumlah tersebut merupakan bagian besar dari populasi ternak kecil Lamongan sekaligus menunjukkan bahwa permintaan terhadap kambing dan domba bukan pasar musiman yang kecil.
Bahkan, pemotongan domba meningkat tajam. Pada 2025 tercatat 7.592 ekor, sedangkan pada 2026 melonjak menjadi 10.788 ekor atau naik 42,09 persen. Pemotongan kambing juga meningkat 15,37 persen. Secara keseluruhan, pemotongan hewan kurban di Lamongan naik dari 29.784 ekor pada 2025 menjadi 36.045 ekor pada 2026.
Baca Juga: Domba Australia Mulai Banyak Dibudidayakan di Lamongan, Ini Jenis-jenisnya
Angka tersebut memperlihatkan satu hal penting: kambing dan domba memiliki keunggulan sebagai komoditas peternakan rakyat karena siklus produksinya relatif lebih pendek dibandingkan sapi. Modal yang dibutuhkan juga lebih rendah sehingga lebih mudah dijangkau rumah tangga petani. Ternak dapat dikembangkan secara bertahap, mulai dari beberapa ekor, kemudian berkembang menjadi usaha komersial.
Harga hewan kurban juga menunjukkan pasar yang cukup bernilai. Sebagai gambaran, harga kambing/domba kurban yang ditawarkan Baznas pada 2026 berkisar Rp2,45 juta hingga Rp3,1 juta per ekor, tergantung bobot.
Namun, bisnis kambing dan domba Lamongan tidak seharusnya berhenti pada penjualan ternak hidup atau daging. Ada potensi lain yang selama ini relatif belum digarap serius, yaitu kotoran ternaknya.
Dengan populasi lebih dari 183 ribu ekor, volume limbah peternakan yang dihasilkan tentu sangat besar. Jika dikelola menjadi pupuk kandang, kompos, atau pupuk organik akan bernilai tambah. Kotoran ternak tidak lagi menjadi limbah, melainkan produk ekonomi baru. Apalagi Lamongan merupakan daerah agraris dengan basis tanaman pangan yang luas. Integrasi peternakan dan pertanian dapat menciptakan siklus ekonomi: limbah pertanian menjadi pakan, ternak menghasilkan daging sekaligus pupuk, dan pupuk kembali digunakan untuk meningkatkan produktivitas lahan. ‘’Integrasi peternakan dengan pertanian juga sudah diterapkan di Lamongan,’’ kata Shofiah.
Besarnya populasi belum otomatis berarti besarnya keuntungan peternak. Diperlukan penguatan pembibitan, pakan, kesehatan ternak, pencatatan usaha, akses pembiayaan, kelembagaan peternak, hingga kepastian pasar.
Lamongan bahkan bisa mulai membangun rantai bisnis kambing-domba terpadu. Bukan hanya menjual ternak menjelang Idul Adha, tetapi mengembangkan pembibitan, penggemukan, rumah potong, pemasaran daging, produk olahan, hingga industri pupuk organik.
Dengan populasi yang terus bertambah dan pasar yang sudah terbukti, kambing dan domba layak dipandang bukan sekadar “ternak pelengkap” di antara dominasi sapi. Jika dikelola secara bisnis, komoditas ini bisa menjadi salah satu mesin ekonomi baru pedesaan Lamongan.
Sebab, potensi terbesar sebenarnya bukan pada banyaknya ternak. Potensi terbesar ada pada seberapa jauh populasi tersebut mampu diubah menjadi nilai tambah dan pendapatan masyarakat (*)
Editor : Arya Nata Kesuma