LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO – Hamparan tanaman padi mulai mendominasi kawasan Bengawan Jero, khususnya di Kecamatan Kalitengah.
Lahan yang sebelumnya digunakan untuk tambak ikan maupun pertanian dengan pola berbeda, tahun ini mulai dimanfaatkan untuk menanam padi.
Pantauan di lapangan menunjukkan usia tanaman padi cukup beragam, mulai dari yang baru ditanam, usia satu bulan, 40 hari, hingga 60 hari.
Khusus di Desa Jelakcatur, sejumlah lahan tambak yang biasanya digunakan untuk siklus budidaya ikan selama setahun, kini terlihat ditanami padi.
Kepala Desa Jelakcatur, Anam Qosim menjelaskan, perbedaan kondisi tanam tahun ini dengan tahun lalu cukup signifikan. Tahun lalu, kondisi kemarau basah membuat petani kesulitan mengeringkan lahan.
‘’Tahun lalu kemarau basah, sehingga untuk tanam padi masih kesulitan. Tahun ini menurut data BMKG akan mengalami kemarau panjang. Ini dimanfaatkan para petambak untuk tanam padi,’’ jelasnya.
Selain kondisi cuaca, harga gabah juga menjadi pemicu optimisme petani. Anam menyebut harga gabah saat ini berada di atas Rp 8 ribu per kilogram.
‘’Jadi hasilnya bisa maksimal,’’ katanya sambil tersenyum.
Menurut dia, petani sebenarnya setiap tahun memiliki keinginan untuk menanam padi. Namun, kondisi cuaca menjadi pertimbangan utama.
Petani khawatir tanaman gagal panen jika sewaktu-waktu air kembali naik. Tahun ini, petani lebih berani karena kondisi air dinilai mendukung dan infrastruktur pengendalian air dibenahi.
‘’Sudah dibuatkan setiap jembatan bendungan, jadi lebih mudah mengontrol air, baik keluar maupun masuk,’’ terangnya.
Hal serupa terlihat di Desa Tiwet, Kecamatan Kalitengah, yakni terlihat sejumlah petani baru menanam padi. Salah satu petani di Desa Tiwet, Sutaji mengakui petani pada hampir seluruh wilayah Desa Tiwet memilih menanam padi.
‘’Beda jauh dengan tahun lalu. Sebagian hanya di sebelah timur yang bisa tanam, sekarang semua tanam padi,’’ ujarnya.
Sutaji menepis jika keputusan petani menanam padi tahun ini semata-mata karena harga gabah yang tinggi.
Menurut dia, kondisi lahan menjadi faktor utama. Kawasan Bengawan Jero merupakan wilayah yang cukup dalam, sehingga sangat bergantung pada kondisi air.
‘’Ini Bengawan Jero paling dalam airnya. Kalau galengannya (pematang sawah, red) sudah kelihatan, ya bisa tandur (menanam) semua. Harapan saya semoga tanam tahun ini sukses,’’ tuturnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Lamongan, M. Bakhrudin Zuhri membenarkan, mayoritas lahan pertanian di wilayah Bengawan Jero tahun ini telah ditanami padi.
‘’Seratus persen tanam, semoga aman sampai panen,’’ ujarnya.
Udin, sapaan akrabnya membandingkan kondisi tersebut dengan tahun sebelumnya. Saat itu, seluruh desa memang melakukan penanaman padi.
Namun, khusus wilayah Bengawan Jero yang memiliki karakteristik lahan lebih dalam, sehingga tidak seratus persen lahannya bisa ditanami.
‘’Rata-rata hanya 40 sampai 70 persen. Itu karena tahun lalu kemarau basah. Tidak ada jeda panas, selalu hujan sepanjang tahun. Akibatnya wilayah Bengawan Jero yang dalam tidak bisa membuang air, sehingga tidak bisa tanam full,’’ jelasnya.
Bahkan, lanjut dia, ada petani yang memaksakan diri menanam di penghujung musim kemarau tahun lalu, dengan harapan air segera surut.
Namun, tanaman justru gagal dipanen karena lebih dulu kembali tergenang saat memasuki musim hujan.
Dengan kondisi mayorita tanam, Bakhrudin mengingatkan petani agar tetap memperhatikan teknis budidaya selama masa tanam.
Baca Juga: Inovasi Hartutik: Padukan Permainan Tradisional dan IT untuk Pembelajaran Anak di Kabupaten Lamongan
Pengelolaan air menjadi salah satu faktor penting untuk memastikan tanaman dapat bertahan hingga masa panen.
Petani juga diminta melakukan mitigasi dini terhadap potensi serangan hama dan penyakit tanaman (HPT).
Langkah tersebut diperlukan agar peningkatan luas tanam tahun ini dapat diikuti dengan hasil produksi yang optimal.
‘’Harapannya petani bisa finis sampai panen dengan produksi optimal, harga jual yang bagus, sehingga petani bahagia,’’ ucapnya.
Di sisi lain, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi terus mengupayakan agar kebutuhan air untuk pertanian tercukupi.
Momen akhir pekan, dimanfaatkan untuk meninjau sejumlah proyek strategis dalam mendukung swasembada pangan di Lamongan.
Salah satunya pengerukan area sekitar bangunan sluice Dusun Melik, Kecamatan Kalitengah, Sabtu lalu (8/8).
Peninjauan ini bertujuan untuk memastikan upaya normalisasi air berjalan optimal, dan mendukung ketersediaan air di aliran irigasi wilayah Bengawan Jero.
Baca Juga: Kisah Pelatih Kiper Persela Lamongan Wahyudi, Jaga Karir di Dunia Sepak Bola dan Usaha Kuliner
Bupati Yes mengatakan, tinggi muka air di Bengawan Jero berada di level minus 110. Melalui gerakan normalisasi sejumlah aliran yang terhambat, Pemkab Lamongan berupaya meningkatkan tinggi muka air hingga minus 70.
Sehingga tersedia cadangan air yang bisa menunjang pertanian, khususnya dalam menghadapi musim tanam.
‘’Kami mengecek normalisasi di sejumlah titik, semoga ini bisa menjadi langkah awal dalam memenuhi kebutuhan air untuk pertanian,’’ ujar Bupati Yes.
Bupati Yes berharap upaya normalisasi dan pengaturan aliran air dapat menjaga aliran irigasi, sehingga pertanian di wilayah Bengawan Jero dapat terus terjaga meski musim kemarau.
Selain itu, karena pola tanam di Lamongan ini berkelanjutan, sehingga dengan ketersediaan air yang cukup maka stok cadangan pangan di Lamongan juga aman. Bahkan produksinya bisa terus meningkat setiap tahunnya.
Menurut Bupati Yes, selain normalisasi saluran irigasi, pemerintah juga terus mendorong pompanisasi maupun pipanisasi.
Sehingga kebutuhan air untuk pertanian harus dipenuhi agar produktivitas pangan juga aman.
Seperti diketahui, saat ini harga gabah panen di tingkat petani sangat tinggi, mencapai Rp 8.100-8.400 per kg.
Kenaikan ini diharapkan bisa menambah kesejahteraan petani dan memastikan jika stok pangan di Lamongan harus aman.
‘’Kita juga harus menyimpan cadangan pangan, intinya tetap untung dan stok pangan aman,’’ terangnya. (sip/rka/ind)
Editor : Indra Gunawan