radarlamongan.co – jawaposradarlamongan - Sektor perikanan di Kabupaten Lamongan terus didorong untuk naik kelas. Tak lagi melulu mengandalkan cara tradisional, para pembudidaya kerapu kini mulai menyentuh era modernisasi berbasis digital. Langkah ini ditandai dengan uji coba operasional Venturi Jet (Venjet) dan perangkat pengukur kualitas air pintar di kawasan tambak kerapu.
Peralatan canggih tersebut buah kolaborasi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama PT Venambak Kail Dipantara. Lewat sentuhan teknologi ini, budidaya ikan kerapu tak lagi berspekulasi, melainkan berbasis data. Parameter krusial air—seperti tingkat keasaman (pH) hingga kadar oksigen terlarut dapat dipantau secara real-timePara petambak cukup mengawasi kondisi air melalui layar ponsel pintar masing-masing.
Baca Juga: Godog Raperda Pembudidayaan Ikan, DPRD Lamongan Dorong Perlindungan Terhadap Petambak
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi turun langsung mengecek ke lokasi untuk memastikan peralatan berbasis digital itu berfungsi optimal. Bupati Yes mengatakan, pemerintah terus berusaha mendampingi dan memfasilitasi untuk kemajuan kampung kerapu. Pemkab juga terus berkomunikasi dengan pusat untuk tambahan bantuan sehingga memudahkan petani kerapu.
Modernisasi menjadi langkah strategis agar sektor perikanan Lamongan terus berkembang dan mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional. "Pemanfaatan teknologi ini menjadi perhatian kami agar produktivitas meningkat, budidaya semakin efisien, dan kesejahteraan pembudidaya terangkat,'' tandas Bupati Yes.
Kepala Dinas Perikanan Lamongan, Yuli Wahyuono, mengatakan, Lamongan mampu menghasilkan 1.836 ton kerapu dari luas lahan 3.500 hektare dalam waktu setahun. Berdasarkan laporan petani, lanjut dia, perputaran uang mencapai Rp 50 miliar dengan produksi minimal 400 kilogram setiap harinya. "Kita upayakan agar produksi kerapu Lamongan terus meningkat,’’ ujarnya. Baca Juga: Update Pupuk Subsidi Petambak 2026, Ini Ribuan Ton yang Siap Didistribusikan di Dekat Lamongan
Petambak kerapu, Hari Mukti, menuturkan, bantuan alat dari Komdigi sangat membantu dalam pemenuhan oksigen di tambak. Petambak lainnya, Lasturi, mengaku, bantuan alat tersebut cukup membantu petani untuk mengetahui kondisi air. Dengan adanya alat ukur modern, kondisi pH lebih tepat. Budidaya kerapu, dalam satu tahun panen sekali, setelah usia delapan bulan. Biasanya petambak panen secara bertahap hingga benih kerapu habis. (rka/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma