radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Harga daging sapi di pasar tradisional sepekan terakhir masih tinggi, Rp 120 ribu hingga Rp 130 ribu per kilogram.
Kepala Dinas Koperasi, Perdagangan dan Perindustrian Lamongan, Anang Taufik, mengatakan, harga daging sapi itu merata hampir di semua pasar akibat tingginya tingkat konsumsi warga.
Guna menjaga stabilitas pasar, dinasnya terus berkoordinasi dengan pemerintah provinsi agar lonjakan harga tak sampai menggerus daya beli masyarakat secara drastis.
Baca Juga: Nyolong di Markas Damkar Kabupaten Lamongan, Pencuri 4 HP Dituntut 2 Tahun Penjara
Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lamongan, Sofiah Nurhayati, mengatakan, melambungnya harga daging sapi murni disebabkan faktor hukum pasar, bukan karena merebaknya kembali wabah penyakit mulut dan kuku (PMK).
Menurut Sofi, setidaknya ada dua faktor pemicu utama. Pertama, efek anomali usai hari raya idul adha.
Saat momen tersebut, tercatat 5.678 ekor sapi dipotong di Lamongan. Ditambah lagi, sekitar 5.000 ekor sapi dijual ke luar daerah.
Baca Juga: Dulu Berjaya, Mobil Penumpang Umum di Kabupaten Lamongan Kini Andalkan Pekerja Pabrik
Faktor kedua, banyaknya kandang milik peternak lokal yang saat ini masih dalam kondisi kosong atau belum terisi kembali pascapenjualan besar - besaran.
“Banyak peternak yang belum mengisi kandang, jadi itu menjadi salah satu penyebab harga daging tinggi,” jelasnya.
Selain itu, Sofi menyebut hukum pasar. Ketika permintaan banyak, stok kurang.
Data populasi sapi dewasa di Lamongan hingga Juni mencapai 16 ribu ekor. Namun, tidak semua daging yang dijual menggunakan sapi lokal. Selain itu, ada banyak sapi yang belum cukup umur sehingga tidak bisa dipotong.
Terkait kasus PMK, Sofi mengaku sudah berhasil ditekan. Peternak sudah bisa mengantisipasi dengan vaksinasi dan disinfeksi kandang. (rka/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma