radarlamongan.co – jawaposradarlamongan - Alokasi pupuk urea dan NPK bersubsidi tahun ini menurun dibandingkan tahun lalu.
Sekretaris Dinas KPP Lamongan, Bakrudin, mengklaim meski ada dampak dari penurunan alokasi pupuk, tapi tidak signifikan.
Alasannya, alokasi pupuk sudah disesuaikan rencana definitif kebutuhan kelompok (E-RDKK) dan serapan tahun lalu.
Menurut Bakrudin, serapan pupuk di Lamongan tahun lalu hanya 93 persen.
Tahun lalu, alokasinya terdiri atas 75 ribu ton urea, 54 ribu ton NPK, dan 15 ribu ton pupuk organik.
Namun, serapannya sekitar 68 ribu ton urea, 51 ribu ton NPK, dan 1.884 ton pupuk organik.
Sedangkan tahun ini, jatahnya 72 ribu ton urea, 53 ribu ton NPK, dan 22 ribu ton pupuk organik.
“Untuk alokasi yang naik hanya organik karena diharapkan petani memperbanyak pupuk organik (alamiah) dibandingkan yang buatan,” jelasnya.
Bakrudin mengatakan, petani mulai menyerap pupuk musim tanam pertama pada Desember dan Januari.
Serapannya rata - rata masih di bawah 30 persen.
Menurut dia, sebagian petani menyerap pupuk akhir tahun lalu untuk musim tanam pertama.
Sehingga serapan awal tahun cenderung rendah.
Lonjakan serapan diperkirakan terjadi pada periode tanam kedua, sekitar April.
Bakrudin menambahkan, penyerapan jauh lebih tertib karena pupuk bersubsidi ini difokuskan untuk sembilan komoditi yang sudah ditetapkan pusat.
Di antaranya, padi, tebu, jagung, cabai, dan bawang.
“Kalau awal musim tanam kita berusaha stok aman agar panen petani melimpah,” terangnya. (rka/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma