radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi di Lamongan sudah mencapai 1.132 kasus suspek.
Angka ini masih terus bisa bertambah karena penularan virus penyakit tersebut sangat cepat.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lamongan, Shofiyah Nurhayati, menjelaskan, potensi tambahan kasus ini masih tetap ada.
Selain penularan virusnya yang sangat cepat melalui hewan, benda, maupun manusia, perubahan cuaca juga menjadikan ternak mudah terserang sakit.
Menurut dia, kasus kematian saat ini mencapai 57 ternak dan ada 40 sapi yang dipotong bersyarat.
Sapi yang potong bersyarat ini bisa dikonsumsi untuk daging segar, tapi kaki dan mulut harus direbus lebih dulu.
“Kematian sudah dipastikan terkonfirmasi PMK semua, tapi yang potong paksa masih bisa dikonsumsi setelah dilakukan hasil lab,” jelasnya.
Shofi mengatakan, sebagian besar ternak yang sakit tidak langsung dilaporkan ke petugas.
Akibatnya, tidak bisa dilakukan penanganan.
Menurut dia, PMK masih bisa disembuhkan.
Apalagi, bagi ternak yang sudah mendapatkan vaksin.
Kemungkinan kesembuhan mencapai 50 persen.
Shofi menuturkan, upaya untuk menurunkan angka penularan terus dilakukan.
Hasil evaluasi, temuan kasus paling banyak ternak yang baru beli dari luar kota.
Untuk memutus rantai penularan PMK, pasar hewan ditutup sementara.
Menurut dia, jumlah populasi sapi di Lamongan sangat cukup.
Bahkan, sebagian besar ternak sudah tervaksin.
Shofi meminta masyarakat aktif melapor apabila sudah membeli ternak baru.
“Beberapa bulan ini sebagian warga mulai membeli sapi untuk persiapan kurban, sehingga ada ternak yang memang belum divaksin jadi akan dimaksimalkan untuk percepatan agar terhindar dari virus,” jelasnya. (rka/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma