LAMONGAN, Radar Lamongan - Alokasi pupuk bersubsidi tahun ini mengalami penurunan. Pupuk urea tahun lalu 63 ribu ton, turun menjadi 42 ribu ton. Sedangkan, pupuk NPK semula 34 ribu ton, turun menjadi 24 ribu ton.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Lamongan, Moch. Wahyudi menjelaskan, untuk alokasi pupuk bersubsidi terjadi penurunan seluruh Indonesia. Karena menyesuaikan dengan kondisi keuangan dari Kementrian Keuangan.
Dia mengatakan, alokasi ini untuk kebutuhan satu tahun. Namun jika alokasi sudah habis sebelum berakhir masa tanam, maka bisa mengajukan melalui rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK).
‘’Alokasi total ada penurunan, tapi tetap bisa mengajukan apabila ada kekurangan selama proses tanam,’’ terang Wahyudi.
Menurut Wahyudi, alokasi pupuk disesuaikan dengan RDKKK, sehingga penurunannya juga tidak signifikan.
Karena alokasi pupuk sekarang harus disesuaikan dengan Permentan Nomor 10 Tahun 2022 untuk sembilan komoditas.
Yakni padi, jagung, kedelai, bawang merah, bawang putih, cabai, tebu rakyat, kopi, dan kakao.
Sedangkan, untuk Lamongan menyesuaikan dengan komoditi yang dikembangkan di sini.
Serapan ini dipengaruhi dengan kondisi pola tanam di tingkat petani. Karena paling banyak di Lamongan petani padi, kemudian disusul tebu dan jagung.
‘’Kalau musim tanam pertama dan kedua ini serapan pupuk tinggi, karena mayoritas petani kita tanam padi, sehingga akan diketahui alokasi ini setelah tanam kedua,” ujarnya. (rka/ind)
Editor : Anjar D. Pradipta