Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Mengenal Sejarah Ponpes Tarbiyatut Tholabah, Pesantren Tertua di Lamongan yang Berdiri Sejak Tahun 1898 

Ahmad Asif Alafi • Selasa, 24 Februari 2026 | 21:23 WIB

Photo
Photo

LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO – Matahari baru saja meninggi di ufuk timur Desa Kranji, Kecamatan Paciran. Namun, riuh rendah aktivitas sudah memenuhi sudut-sudut masjid dan selasar asrama Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah (Ponpes Tabah) di awal Ramadan ini.

Ratusan santri berseragam sekolah tampak duduk bersila, kepala mereka tertunduk khusyuk menghadap tumpukan kertas kuning yang mulai dipenuhi guratan makna.​Itulah denyut nadi harian di Ponpes tertua di Kota Soto yang akrab disapa Pondok Kranji tersebut. Sebuah lembaga yang berdiri tegak melintasi zaman, menjaga warisan spiritual sejak abad ke-19.

Pengasuh Ponpes Tabah KH Sahlul Khuluq Baqir menjelaskan, lembaga ini didirikan pada 1898 oleh KH Musthofa Abdul Karim. Sang Kiai sejatinya berasal dari Desa Tebuwung, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik. Awalnya, beliau didatangkan warga sekitar hanya untuk mengajar ngaji dari musala ke musala. Saat niat mendirikan ponpes muncul, pilihan pertama jatuh ke wilayah Desa Kemantren, Kecamatan Paciran. Namun, petunjuk langit justru menuntun langkahnya ke Kranji.

"Ternyata hasil istikharah beliau (KH Musthofa Abdul Karim, red) terbaik adalah menempati di Desa Kranji. Meski bukan opsi awal beliau,’’ terang Kiai Sahlul, sapaan akrabnya saat membuka fragmen sejarah berdirinya pesantren tersebut.​

Perjalanan Ponpes Tabah memang tidak meledak dengan kilat, namun juga tidak pernah surut. Kiai Sahlul menyebut pergerakan pondok ini layaknya aliran air yang tenang namun pasti. Ada prinsip leluhur yang dipegang teguh, yakni istikamah.

‘’Alhamdulillah bisa berjalan istikamah, karena ayah saya Mbah Yai Baqir punya prinsip, penting iso mlaku, penting santrinya lumintu (terpenting bisa berjalan, terpenting santrinya stabil),’’ ucap Kiai Sahlul. 

Hingga kini, Pengasuh Ponpes Tabah tetap mempertahankan terapan ilmu.​ Silsilah kepemimpinan di Ponpes Tabah pun terjaga rapi, mulai dari KH Musthofa Abdul Karim (1898-1950) hingga kini tongkat estafet berada di tangan KH Sahlul Khuluq Baqir sejak Tahun 2024.

​Zaman boleh berubah namun pondasi salaf harus tetap terjaga. Jika di awal berdiri sistem pendidikan murni salaf yang fokus pada pendalaman ilmu agama, medio 1970–1980 menjadi titik balik transformasi. Kurikulum salaf mulai dikawinkan dengan pelajaran formal.

​Hasilnya, kepercayaan masyarakat pada pesantren yang juga akrab disebut Pondok Kranji ini terus mengalir. Saat ini, tercatat ada 1.300 santri yang menetap. 

‘’Kalau yang keluar masuk, artinya pagi datang sore baru pulang, bisa 2.000-an kurang lebih,’’ terang Kiai Sahlul.

​Bagi Kiai Sahlul, angka ribuan santri itu bukan sekadar statistik, melainkan amanah berat. Di era disrupsi, tantangan terbesar adalah menjaga marwah pesantren. 

‘’Kepercayaan terhadap kualitas adab, lingkungan, dan pendidikan itu yang harus dijaga,’’ tegasnya.

​Saat Ramadan, atmosfer di Pondok Kranji pun kian kental dengan nuansa literasi klasik. Pelajaran umum diparkir sejenak. Fokus santri dialihkan sepenuhnya untuk mengkhatamkan kitab kuning. Jam belajar tetap ketat, namun isinya full mengaji. 

Targetnya pun tak main-main, satu kitab besar atau tiga hingga empat kitab ukuran kecil harus tuntas dalam sebulan. Bahkan, setelah Isya, lantunan tadarus dan kajian kitab bisa bersambung hingga tengah malam. 

‘’Setelah Ashar juga mengaji sampai mendekati Magrib, begitu juga pagi ngaji full. Ada target menghatamkan beberapa kitab di bulan puasa,’’ jelasnya. 

​Kiai Sahlul berharap, simbol yang terpatri dalam lambang Ponpes Tabah tidak berhenti sebagai hiasan dinding. Ia ingin santri sukses dunia-akhirat dengan menjadikan ilmu sebagai karakter. 

‘’Sebagaimana dalam simbol lambang Ponpes Tabah, tidak hanya sekedar tulisan, tapi merupakan sebuah perilaku dan karakter santri Kranji,’’ ucapnya. (sip/ind)

Editor : Anjar D. Pradipta
#pondok pesantren #ponpes #lamongan