Oleh :
Bachtiar Febrianto, S.P, M.Agr
Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik
Musim hujan di Lamongan kembali menghadirkan kisah klasik banjir yang terjadi setiap tahun di kawasan Bengawan Jero. Luapan sungai yang menjadi anak dari Bengawan Solo ini telah merendam ribuan rumah, menggenangi puluhan ribu jiwa, serta menyapu ribuan hektare sawah dan tambak.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan menunjukkan bahwa banjir yang terjadi sejak akhir Desember 2025 hingga pertengahan Januari 2026 telah berdampak pada lebih dari 5.000 rumah dan hampir 22.000 warga di lima kecamatan: Kalitengah, Turi, Deket, Karangbinangun, dan Glagah. Luas lahan pertanian yang terendam mencapai ribuan hektare, sementara fasilitas pendidikan, termasuk puluhan sekolah, juga ikut terdampak.
Fenomena banjir Bengawan Jero bukan peristiwa baru, tapi sudah sejak dahulu. Kawasan ini sejak dulu “seperti baskom”, dengan topografi rendah dibanding sekelilingnya sehingga setiap musim hujan banjir terjadi.
Sementara itu, ketika memasuki awal musim kemarau, genangan bisa memakan waktu berminggu-minggu untuk surut. Secara historis, upaya penanggulangan banjir dilakukan dengan mengalirkan air keluar melalui Pintu Air Kuro yang menghubungkan kawasan Bengawan Jero dengan sungai utama Bengawan Solo di utara.
Namun, ketika debit dan ketinggian air Bengawan Solo lebih tinggi akibat curah hujan ekstrem di hulu, pintu ini justru harus ditutup guna mencegah backflow air dari Bengawan Solo ke Bengawan Jero — sebuah dilema klasik yang memperpanjang masa genangan.
Selama ini, Pemkab Lamongan telah mengupayakan solusi mekanis dengan memasang pompa berkapasitas besar — hingga hampir 10.000 liter per detik — untuk memompa air keluar dari Kawasan Bengawan Jero ke Bengawan Solo.
Meskipun upaya ini membantu mempercepat penurunan muka air, namun kapasitas pompa tidak dapat secara efektif mengimbangi volume air yang masuk saat curah hujan tinggi berlangsung. Sifatnya yang reaktif dan bergantung pada energi listrik membuatnya mahal dan kurang tahan terhadap intensitas hujan tinggi yang meningkat akibat perubahan iklim.
Melihat fenomena itu, secara ilmiah ada strategi yang paling efektif mengatasi masalah tersebut adalah mendesain sistem drainase yang mengandalkan prinsip gravitasi—yaitu aliran air dari kawasan yang lebih lebih tinggi (Bengawan Jero) menuju sungai atau laut tanpa perlu energi eksternal. Ini adalah mekanisme alami yang paling efisien dan hemat biaya. Pembukaan pintu air Kuro saat kondisi Bengawan Solo sudah menurun adalah contoh nyata dari pendekatan ini.
Alternatif Gravitasi: Saluran Kali Corong
Sebenarnya, ada alternatif lain yang potensial, yaitu pemanfaatan saluran Kali Corong yang mengalir langsung ke laut. Secara hidrologis, saluran ini memiliki keunggulan karena tidak bergantung pada kondisi muka air Bengawan Solo atau sungai besar lain di sekitarnya. Alih–alih menunggu luapan surut, air dari Bengawan Jero bisa langsung “dibelokkan” ke laut melalui saluran ini saat volume naik.
Namun, pilihan ini bukan tanpa tantangan. Pertama, lebar dan kedalaman Kali Corong saat ini relatif kecil dan tidak mampu menampung debit besar saat banjir tanpa perlu diperlebar dan ditingkatkan kapasitasnya. Kedua, sebagian saluran ini melewati wilayah administrasi Kabupaten Gresik, sehingga dibutuhkan koordinasi lintas daerah yang intensif dan perencanaan teknis yang matang.
Pembebasan lahan dan pembangunan infrastruktur baru di area lintas kabupaten tentu memerlukan proses panjang dan dialog bersama antara Pemkab Lamongan, Gresik, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, serta pemerintah pusat. Ketiga, anggaran yang dibutuhkan sangat besar dan di luar kemampuan daerah semata — perlu dukungan anggaran besar dari pemerintah pusat dan provinsi.
Menatap Masa Depan dengan Integrasi dan Teknologi
Meski demikian, solusi yang permanen untuk Bengawan Jero harus mengintegrasikan manajemen sumber daya air, perbaikan infrastruktur, dan strategi adaptasi iklim. Tidak cukup hanya memperbesar kanal atau membangun drainase gravitasi, tapi tetap perlu pendekatan terpadu dengan upaya yang telah dilakukan selama ini, antara lain yang melibatkan:
- Pembangunan sistem pompa dan pintu air yang terintegrasi, yang dirancang untuk bekerja optimal berdasarkan prediksi cuaca dan manajemen hulu–hilir.
- Normalisasi sungai dan saluran primer seperti Kali Blawi, Malang, Corong, dan Mireng, yang telah diusulkan BBWS Bengawan Solo melalui penambahan anggaran ratusan miliar rupiah untuk normalisasi dan peningkatan kapasitas saluran.
- Sistem peringatan dini berbasis data hidrometeorologi, memanfaatkan sensor digital yang memantau muka air, curah hujan, dan prediksi risiko banjir secara real-time sehingga kebijakan pembukaan/tutupan pintu air bisa dilakukan secara lebih cepat dan tepat sasaran.
- Reboisasi dan penjagaan kawasan hulu DAS, untuk mengurangi limpasan cepat yang menjadi salah satu pemicu kenaikan muka air secara ekstrem.
Optimisme Untuk Komunitas dan Pemerintah
Meskipun tantangannya besar, cerita banjir Bengawan Jero juga penuh dengan semangat gotong royong dan inovasi. Pemerintah daerah telah menunjukkan tekad kuat dengan menambah kapasitas pompa dan terus bekerja dengan instansi terkait.
Masyarakat lokal pun terus bangkit, bersama relawan dan lembaga pendidikan yang terus memastikan proses belajar tetap berjalan meskipun kondisi sulit. Ini mencerminkan daya tahan sosial yang kuat — modal penting dalam menghadapi tantangan iklim yang kian tidak menentu.
Transformasi sistem drainase dari sekadar solusi “darurat” menjadi solusi gravitasi yang permanen dan adaptif secara ilmiah bukan sekadar impian. Dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat, sinergi antarwilayah, dan pendekatan berbasis data — Bengawan Jero bisa berubah dari wilayah banjir tahunan menjadi study case keberhasilan pengelolaan banjir berbasis gravitasi yang modern dan efisien.
Banjir memang tantangan besar — tetapi justru tantangan itulah yang membuka kesempatan untuk berinovasi dan berkolaborasi demi masa depan yang lebih aman, produktif, dan berkelanjutan bagi warga Lamongan. Semangat optimisme ini harus terus kita rawat bersama. (*)
Editor : Anjar D. Pradipta