Oleh : Bachtiar Febrianto
Direktur Jawa Pos Radar Bojonegoro
Di tengah hiruk-pikuk wacana pembangunan nasional yang sering menuntut terobosan besar dan anggaran jumbo, Kabupaten Lamongan justru memberi pelajaran sebaliknya: pengentasan kemiskinan bisa berjalan efektif lewat langkah-langkah tenang, konsisten, dan tepat sasaran.
Data BPS terbaru menunjukkan angka kemiskinan Lamongan terus menurun secara berkelanjutan. Dari 12,42 persen pada 2023, turun menjadi 12,16 persen pada 2024, lalu kembali menurun menjadi 12,03 persen pada 2025. Pemerintah daerah menargetkan penurunan lanjutan menjadi 11,95 persen pada 2026. (Radar Lamongan)
Angka-angka ini memang tidak dramatis, tetapi justru di situlah kekuatannya. Dalam konteks ekonomi yang penuh ketidakpastian, penurunan yang stabil adalah indikator kebijakan yang tepat sasaran manusianya maupun konsepnya.
Lebih penting dari sekadar angka adalah pergeseran pendekatan. Lamongan perlahan meninggalkan pola pengentasan kemiskinan yang terlalu bertumpu pada bantuan konsumtif, menuju pemberdayaan ekonomi berbasis rumah tangga, terutama kelompok paling rentan. Salah satu contoh paling konkret adalah program pemberdayaan Kepala Rumah Tangga Perempuan (KRTP).
KRTP: Kebijakan Kecil dengan Dampak Struktural
Sejak 2022, Pemkab Lamongan telah menjalankan program pemberdayaan KRTP dan hingga kini telah menjangkau 294 kepala rumah tangga perempuan di 23 kecamatan. Mereka adalah perempuan yang memikul beban ganda: mengelola rumah tangga sekaligus menjadi penopang utama ekonomi keluarga. Dalam banyak kasus, kelompok ini berada di lapisan terbawah struktur sosial-ekonomi dan paling rentan jatuh dalam kemiskinan ekstrem.
Program KRTP menarik karena tidak berhenti pada penyaluran bantuan modal usaha. Di dalamnya terdapat pendampingan, penguatan kapasitas usaha, serta monitoring berkelanjutan. Artinya, negara hadir bukan hanya sebagai pemberi, tetapi sebagai mitra yang ikut memastikan keberlanjutan.
Pendekatan ini sejalan dengan banyak temuan kebijakan publik: memberdayakan perempuan kepala keluarga memberikan efek berganda. Setiap peningkatan pendapatan yang mereka peroleh cenderung langsung berdampak pada gizi keluarga, pendidikan anak, dan stabilitas sosial di tingkat komunitas. Dengan kata lain, program KRTP bukan sekadar kebijakan sosial, tetapi investasi pembangunan manusia.
Mengapa Penurunan Perlahan Justru Lebih Sehat
Dalam diskursus pembangunan, sering muncul godaan untuk mengejar penurunan angka kemiskinan secara cepat dan drastis. Namun pengalaman banyak daerah menunjukkan bahwa penurunan yang terlalu cepat kerap rapuh dan mudah terpental saat terjadi krisis.
Lamongan memilih jalur yang lebih realistis. Penurunan kemiskinan yang perlahan tetapi konsisten menunjukkan bahwa fondasi ekonomi rumah tangga miskin sedang diperkuat, bukan sekadar dipoles statistiknya. Hal ini juga tercermin dari membaiknya indikator kedalaman dan keparahan kemiskinan, yang berarti kelompok miskin semakin dekat ke garis sejahtera dan tidak terperosok terlalu dalam.
Dalam konteks ini, program KRTP berperan sebagai “peredam guncangan”. Ketika harga pangan naik atau pendapatan sektor pertanian terganggu, rumah tangga yang telah memiliki usaha mikro relatif lebih tahan dibanding mereka yang sepenuhnya bergantung pada bantuan.
Optimisme yang Rasional
Tentu, Lamongan belum selesai dengan pekerjaan rumahnya. Ketergantungan pada sektor primer, keterbatasan lapangan kerja formal, serta ancaman perubahan iklim tetap menjadi tantangan struktural. Namun optimisme tetap layak dibangun—bukan karena klaim politik, melainkan karena arah kebijakan yang semakin presisi.
Jika program seperti KRTP diperluas, diperdalam, dan diintegrasikan dengan akses pembiayaan, pelatihan digital, serta pasar yang lebih luas, dampaknya bisa melampaui penurunan angka kemiskinan tahunan. Ia dapat menciptakan kelas ekonomi baru di tingkat akar rumput: kecil, tetapi mandiri.
Pelajaran bagi Daerah Lain
Lamongan memberi pesan penting bagi daerah lain: pengentasan kemiskinan tidak selalu membutuhkan desain kebijakan rumit. Yang dibutuhkan adalah keberanian memilih sasaran yang tepat dan kesabaran mengawal proses.
Ketika perempuan kepala rumah tangga diberi ruang, modal, dan pendampingan, mereka tidak hanya bertahan—mereka bergerak maju. Dari sanalah optimisme pembangunan menemukan bentuk paling nyatanya.
Penurunan angka kemiskinan Lamongan hari ini mungkin belum mencolok secara nasional. Namun justru dari langkah-langkah sunyi semacam inilah, perubahan yang tahan lama biasanya tumbuh. (*)
Editor : Anjar D. Pradipta