RADARLAMONGAN.CO, JAWAPOS.COM — Sebuah capaian monumental diraih petani sawah tambak di Kabupaten Lamongan. Setelah perjuangan panjang dan kerja keras tanpa henti antara pemerintah daerah dan petani, akhirnya kelompok petani di wilayah yang terkenal sebagai Kota Soto ini memperoleh alokasi pupuk bersubsidi dari pemerintah pusat. Bahkan, jumlahnya menjadi yang terbesar di antara kabupaten/kota lain di Jawa Timur.
Menurut data yang disampaikan Kepala Dinas Perikanan Lamongan, Yuli Wahyuono melalui Sekretaris Dinas Perikanan Kabupaten Lamongan, Margono Gono Putro, dari total alokasi pupuk bersubsidi Jawa Timur sebesar 41.000 ton, Lamongan mendapatkan porsi terbesar mencapai 33.000 ton.
‘’Ini menjadi tonggak penting karena selama bertahun-tahun petani sawah tambak di Lamongan tidak mendapatkan jatah pupuk bersubsidi karena tidak termasuk dalam skema standar alokasi yang dulu hanya diperuntukkan bagi sawah darat,’’ ujarnya.
Dulu Tanpa Alokasi, Kini Jadi Prioritas
Selama ini, kondisi petani sawah tambak di Lamongan sempat tertekan karena mereka kesulitan mengakses pupuk bersubsidi — padahal lahan sawah tambak di Lamongan cukup luas dan tidak hanya digunakan untuk budidaya ikan, tapi juga untuk menanam padi yang membutuhkan pupuk berkualitas. Tanpa alokasi, biaya produksi menjadi tinggi dan produktivitas padi cenderung stagnan.
Situasi ini berbalik pada tahun anggaran paling baru. Berkat lobby intensif dan kolaborasi strategis antara Pemkab Lamongan, Dinas Perikanan, kelompok tani, serta dukungan provinsi, alokasi pupuk bersubsidi kini mengakomodasi kebutuhan sawah tambak. Petani pun menyambut dengan lega setelah merasa perjuangan mereka selama beberapa tahun terakhir akhirnya membuahkan hasil.
Kolaborasi Solid: Kunci Keberhasilan
Yuli menekankan bahwa kesolidan antara petani dan pemerintah daerah menjadi kunci keberhasilan ini. Koordinasi intensif mulai dari data kebutuhan lahan di e-RDKK (elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok), hingga pendekatan kepada pemerintah pusat, menjadi strategi efektif agar alokasi pupuk untuk sawah tambak boleh masuk ke skema subsidi.
Tidak hanya itu, pemerintah daerah juga aktif melakukan pendampingan dan sosialisasi agar petani benar-benar memahami mekanisme penebusan dan penggunaan pupuk bersubsidi sesuai aturan terbaru, termasuk manfaat pemupukan yang tepat guna meningkatkan hasil panen.
Kebijakan ini sejalan dengan skema baru yang dicanangkan di seluruh Jawa Timur untuk meningkatkan serapan pupuk bersubsidi dan produktivitas pertanian.
Harapan ke Depan
Melihat momentum ini, harapan besar tertumpuk pada keberlanjutan dukungan pupuk bersubsidi untuk petani sawah tambak Lamongan. Petani lokal berharap alokasi yang sudah diperoleh tidak hanya memenuhi kebutuhan jangka pendek, tetapi juga membuka peluang peningkatan produktivitas dan kesejahteraan jangka panjang.
Seiring dengan upaya pemerintah pusat dan daerah untuk memperbaiki tata kelola pupuk bersubsidi dan memastikan tepat sasaran, pencapaian Lamongan ini bisa menjadi model sukses pemberdayaan petani yang bisa ditiru daerah lain di Indonesia. (feb)
Editor : Anjar D. Pradipta