Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Kalah Subur dengan Daerah Lain, Mengapa Lamongan Bisa Jadi Produsen Padi Terbesar di Jawa Timur?

Bachtiar Febrianto • Kamis, 8 Januari 2026 | 09:09 WIB
Bachtiar Febrianto, Direktur Jawa Pos Radar Bojonegoro
Bachtiar Febrianto, Direktur Jawa Pos Radar Bojonegoro

Oleh :

Bachtiar Febrianto, S.P, M.Agr.

(Dosen Prodi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Gresik) 

 

Dalam diskursus pertanian Jawa Timur, satu pertanyaan kerap mengemuka: bagaimana mungkin Lamongan menjadi produsen padi terbesar, sementara secara alamiah kalah subur dibanding Jember, Kediri, Nganjuk, atau Madiun? Pertanyaan ini sah, bahkan penting, karena menyentuh inti persoalan pembangunan pertanian modern—apakah kesuburan alam masih menjadi faktor dominan, ataukah telah digeser oleh strategi, teknologi, dan tata kelola.

Data produksi padi Jawa Timur tahun 2025 menunjukkan fakta yang tidak bisa diabaikan. Kabupaten Lamongan mencatat produksi gabah kering giling (GKG) tertinggi di provinsi ini, mendekati angka satu juta ton per tahun. Capaian tersebut menempatkan Lamongan di atas daerah-daerah yang selama ini dikenal sebagai “kelas berat” pertanian padi dari sisi kesuburan tanah dan irigasi teknis. Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari perubahan paradigma produksi.

Produktivitas Bukan Sekadar Soal Subur atau Tidak.

Secara agronomis, daerah seperti Jember dan Kediri memiliki keunggulan alamiah yang jelas. Tanah vulkanik, kandungan bahan organik tinggi, serta sistem irigasi teknis yang relatif stabil membuat produktivitas padi per hektare di wilayah tersebut cenderung lebih tinggi. Dalam ukuran ton per hektare, Lamongan memang tidak selalu unggul.

Namun produksi padi yang dicatat oleh Badan Pusat Statistik bukanlah produktivitas per hektare, melainkan produksi total. Di sinilah perbedaan mendasar itu muncul.

Produksi total merupakan hasil dari tiga variabel utama: luas panen, frekuensi tanam, dan produktivitas. Lamongan mungkin kalah pada variabel terakhir, tetapi unggul signifikan pada dua variabel pertama.

Luas Panen sebagai Penentu Skala Produksi.

Lamongan memiliki salah satu bentang lahan sawah terluas di Jawa Timur. Sawah-sawah tersebut tersebar dari wilayah tengah hingga selatan, dengan karakter lahan aluvial dan tadah hujan yang luas. Ketika daerah lain menghadapi keterbatasan ekspansi lahan karena tekanan industri, perkebunan, atau urbanisasi, Lamongan relatif mampu mempertahankan sawah produktifnya.

Secara matematis sederhana, daerah dengan produktivitas sedang tetapi luas panen sangat besar akan menghasilkan volume gabah lebih tinggi dibanding daerah yang sangat subur namun lahannya terbatas. Inilah fondasi utama keunggulan Lamongan.

Frekuensi Tanam Tinggi: Strategi Melawan Keterbatasan Alam.

Keunggulan kedua Lamongan terletak pada intensitas tanam. Banyak wilayah pertanian di Lamongan mampu melakukan dua hingga tiga kali tanam per tahun. Hal ini dicapai bukan karena irigasi teknis paling sempurna, melainkan karena strategi adaptif petani dan dukungan kebijakan daerah.

Pemanfaatan pompanisasi, sumur dangkal, pengaturan kalender tanam yang fleksibel, serta keberanian menanam di kondisi air minimal menjadikan Lamongan tidak sepenuhnya bergantung pada irigasi primer. Saat daerah lain menunggu kondisi ideal, Lamongan sering kali sudah memulai tanam.

Pendekatan ini meningkatkan risiko agronomis, tetapi secara agregat menaikkan volume produksi tahunan.

Peran Kebijakan Publik dan Teknologi

Keberhasilan Kota Soto tersebut tidak dapat dilepaskan dari intervensi kebijakan Pemkab Lamongan. Menurut Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, program luas tambah tanam, distribusi alat dan mesin pertanian, subsidi input produksi, serta pendampingan intensif oleh penyuluh menjadi ekosistem yang saling memperkuat.

Teknologi berperan sebagai penutup kelemahan alam. Penggunaan combine harvester menekan kehilangan hasil panen, percepatan olah tanah memungkinkan jeda tanam yang lebih singkat, dan mekanisasi mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja musiman. Dalam konteks pertanian modern, efisiensi sering kali lebih menentukan daripada kesuburan semata.

Dimensi Sosial: Mentalitas Produksi Petani Lamongan.

Aspek yang jarang tercatat dalam statistik adalah budaya dan mentalitas petani. Petani Lamongan dikenal pragmatis dan berorientasi kontinuitas. Prinsip yang sering dipegang adalah “lebih baik tanam daripada menunggu”.

Budaya ini terbentuk dari pengalaman panjang menghadapi banjir Bengawan Solo, kekeringan musiman, dan fluktuasi iklim. Alih-alih menyerah pada ketidakpastian alam, petani mengembangkan pola adaptif yang kemudian menjadi keunggulan struktural.

Mengapa Daerah Lebih Subur Tidak Selalu Unggul Total?

Daerah seperti Jember, Kediri, Nganjuk, dan Madiun tetap unggul dari sisi produktivitas per hektare. Namun fokus pembangunan mereka sering terbagi: antara padi, perkebunan, industri, dan jasa. Selain itu, disiplin irigasi yang ketat kadang justru membatasi frekuensi tanam.

Dalam konteks produksi total, kehati-hatian agronomis dapat berujung pada volume yang lebih kecil dibanding strategi agresif yang dijalankan Lamongan.

Pelajaran Strategis dari Lamongan.

Kasus Lamongan menunjukkan bahwa dalam pertanian modern, keunggulan kompetitif tidak lagi semata ditentukan oleh alam, melainkan oleh kombinasi skala, intensitas, teknologi, dan tata kelola. Kesuburan tetap penting, tetapi bukan faktor tunggal.

Lamongan mengajarkan bahwa daerah dengan sumber daya alam “biasa” dapat menjadi lumbung pangan jika mampu mengelola risiko, memperluas skala produksi, dan menjaga kontinuitas tanam.

Penutup.

Pertanyaan mengapa Lamongan bisa menjadi produsen padi terbesar di Jawa Timur meski kalah subur kini menemukan jawabannya. Bukan karena Lamongan memiliki tanah terbaik, melainkan karena memiliki strategi produksi paling konsisten dan terukur.

Dalam konteks ketahanan pangan nasional, pelajaran dari Lamongan relevan: masa depan pertanian Indonesia tidak hanya ditentukan oleh alam, tetapi oleh kecerdasan mengelola keterbatasan (*)

Editor : Anjar D. Pradipta
#lamongan #produsen padi #pertanian