Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Menengok Kampung Pengusaha Pecel Lele di Dusun Slegreng, Desa Pataan. Dari Warung Sederhana di Perantauan, Berjajar Rumah Megah di Kampung Halaman

Ahmad Asif Alafi • Minggu, 5 Oktober 2025 | 22:56 WIB
BUKTI KESUKSESAN: Potret rumah-rumah megah milik pengusaha pecel lele di Dusun Slegreng, Desa Pataan, Kecamatan Sambeng.
BUKTI KESUKSESAN: Potret rumah-rumah megah milik pengusaha pecel lele di Dusun Slegreng, Desa Pataan, Kecamatan Sambeng.

LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO - Perjalanan panjang dilalui ketika wartawan koran ini menuju kampung penjual pecel lele di Dusun Slegreng, Desa Pataan, Kecamatan Sambeng.

Jaraknya sekitar 35 kilometer dari Alun-Alun Lamongan menuju ke selatan. Jalan berliku dan hutan jati menemani perjalanan hampir satu jam. Namun sesampainya di sana, mata langsung disuguhi pemandangan tak biasa.

Di balik dusun yang sejuk dan tenang, berdiri deretan rumah megah. Ada juga yang sedang dalam tahap pembangunan. Rumah-rumah besar itu bukan hasil dari pekerja kantoran atau pegawai negeri. Mayoritas dibangun dari hasil usaha sederhana namun penuh cerita yakni bisnis pecel lele.

Firdaus Prayogo, salah satu pengusaha pecel lele di Dusun Slegreng menyambut dengan ramah di rumahnya. Lelaki yang akrab disapa Yogo ini mengisahkan jatuh bangun perjalanan bisnisnya di tanah rantau hingga sukses sampai sekarang. Dia berjualan pecel lele di daerah Pekanbaru arah ke Sumatra.

Yogo harus merintis dari bawah. Tahun 2005, dia merantau pertama kali hanya menjadi karyawan pecel lele. Setelah menikah, dia kembali mencoba peruntungan dengan membuka warung sendiri sekitar Tahun 2011.

‘’Pernah istri minta pulang karena jualan gak naik-naik. Uangnya habis buat belanja, paginya kosong. Tapi kita bertahan. Alhamdulillah setelah lima bulan baru kelihatan hasilnya,’’ kenangnya.

BUAH KERJA KERAS: Firdaus Prayogo, salah satu pengusaha pecel lele di Dusun Slegreng merasakan susah senang merintis bisnis di perantauan.
BUAH KERJA KERAS: Firdaus Prayogo, salah satu pengusaha pecel lele di Dusun Slegreng merasakan susah senang merintis bisnis di perantauan.

Kenangan pahit saat merintis usaha pun tak mudah dilupakan. ‘’Dulu motor jelek sering mogok, rantai putus, ban bocor, sampai balik lagi gak bisa ambil barang. Itu jadi pengalaman yang membekas sampai sekarang,” ucapnya.

Menu andalan warungnya ialah ayam, lele, dan nila. ‘’Terkadang bawa bebek. Paling kencang ya ayam sambel sama lele,’’ tambahnya.

Dalam sehari pada hari normal, dia bisa menghabiskan 30–35 ekor ayam dan belasan kilogram lele. Saat Lebaran, angka itu melonjak dua kali lipat. Dengan empat sampai lima karyawan, omzetnya bisa tembus jutaan per malam.

‘’Kotor Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta, kalau bersih sekitar Rp 700 ribu – Rp 600 ribu sehari dengan empat karyawan,’’ ujarnya.

Menurut dia, tantangan bisnis pecel lele ialah dari karyawan. Ada yang rajin dan ada yang sebaliknya, dengan berbagai karakter. Beragam pergolakan dialaminya. Pernah saat dia pulang ke Jawa, karyawannya bertengkar dan lari.

Bahkan, dia pernah coba buka cabang, tapi hanya bertahan empat bulan karena tidak ada yang menjaga. ‘’Kalau karyawan baik, enak. Kalau tidak, repot. Enaknya kita dan tidak enaknya kita, tergantung karyawan. Kalau tidak ada karyawan, kerja sendiri, gak terbayang capeknya, ” katanya sambil tersenyum.

Meski hidup di rantau, hati mereka tetap tertambat di kampung halaman. Yogo misalnya, yang masih memiliki mimpi besar ke depannya. ‘’Selagi masih muda, kita kumpulkan uang banyak buat aset di Jawa. Kalau tua nanti ya ingin di sini saja, mungkin beternak sapi. Intinya, pulang kampung,” ucapnya.

Cerita Yogo hanya sepetik cerita pahit dan manis pengusaha pecel lele di kampung ini. Kepala Dusun Slegreng, Vicky Vernando Putra menyebut, mayoritas warganya kini menggantungkan hidup dari bisnis pecel lele.

‘’Dulu sekitar 2003-2008, banyak warga kerja di pembakaran batu kapur. Sekarang 75 persen lebih beralih jadi penjual pecel lele, yang di Dusun Slegreng banyak di wilayah Riau, Sumatera. Kalau di Kalimantan dan Sulawesi, hanya beberapa orang,” jelas Vicky.

Untuk pola jualan pecel lele ini, kebiasaan ikut tetangga. Jadi berawal ikut dulu, bantu-bantu, kemudian dikasih resep. Selanjutnya membuka usaha sendiri, yang kemudian memodifikasi sambalnya. Disesuaikan dengan lidah masyarakat atau konsumen.

‘’Awalnya satu orang berangkat, lalu ngajak temannya, lama-lama jadi banyak. Sampai sekarang rata-rata sudah belasan tahun jualan,” tambahnya.

Dari usaha itu, rumah-rumah megah pun mulai berdiri. Bahkan, dalam kegiatan desa, para perantau pecel lele kerap membantu dengan donasi. Selain itu, para pengusaha pecel lele di kampung ini memiliki paguyuban sendiri.

Vicky menuturkan, dirinya juga dari background penjual pecel lele, yakni orang tuanya juga merupakan penjual pecel lele kaki lima. Sehingga dari kecil, dia tahu sepak terjang penjual pecel lele di perantauan.

‘’Saya latar belakang pecel lele, saya masih kecil Tahun 2008 atau 2009 diajak merantau ke Jayapura, Sentani, tiga tahun di sana baru ke Sumatera Tahun 2012- an,’’ kenangnya. ‘’ Kunci utama sabar, konsisten, dan berihtiar,’’ sambungnya.

Namun, dari kisah jatuh bangun itu, lahirlah kisah sukses. Dusun Slegreng kini dikenal sebagai kampung pecel lele. Dari warung tenda sederhana di perantauan, warganya pulang membawa cerita, rezeki, dan rumah-rumah megah yang berdiri kokoh di kampung halaman. (sip/ind)

Editor : Anjar D. Pradipta
#Sambeng #lamongan #kampung pecel lele #pecel lele