RADARLAMONGAN.CO, JAWAPOS.COM - Kabupaten Lamongan kembali meneguhkan diri sebagai produsen beras terbesar di Jawa Timur. Keberhasilan ini semakin istimewa mengingat Lamongan termasuk daerah rawan kekurangan air saat musim kemarau.
Kunci utamanya bukan hanya karena adanya pasokan dari Bengawan Solo dan Sungai Brantas, tetapi juga strategi pemerintah daerah dalam meningkatkan luas tambah tanam (LTT) serta diversifikasi pola tanam yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Produksi Beras Tertinggi di Jawa Timur
Menurut data BPS Lamongan 2024, produksi padi mencapai 776.950 ton Gabah Kering Giling (GKG) atau setara dengan sekitar 505.000 ton beras.
Angka ini menempatkan Lamongan di peringkat pertama produsen padi di Jawa Timur, jauh melampaui daerah-daerah lain yang juga dikenal sebagai lumbung padi seperti Ngawi dan Bojonegoro.
Kontribusi Lamongan terhadap produksi beras Jawa Timur diperkirakan mencapai lebih dari 10% dari total provinsi.
Faktor penting yang menopang capaian ini adalah peningkatan luas tambah tanam (LTT). Pada 2024, Lamongan berhasil menambah luas tanam padi hingga ±8.000 hektare dibanding tahun sebelumnya.
Strategi ini dicapai melalui pemanfaatan lahan tadah hujan secara maksimal, pengaturan pola tanam gadu (musim kering), serta pengembangan diversifikasi tanaman pangan lain seperti jagung dan kedelai untuk menjaga kesuburan tanah.
Ketergantungan pada Dua Sungai Besar
Lamongan memiliki keterbatasan sumber air lokal. Karena itu, keberhasilan produksi tidak bisa dilepaskan dari dukungan dua sungai besar: Bengawan Solo yang sudah lama menjadi tulang punggung irigasi, serta Sungai Brantas yang pasokannya mulai didistribusikan melalui saluran pipa ke wilayah selatan Lamongan.
Awalnya memang untuk memenuhi kebutuhan air minum. Namun juga bisa untuk irigasi. Pasokan ganda inilah yang membuat sawah-sawah di Lamongan tetap produktif meski ancaman kekeringan kerap menghantui.
Namun, ketergantungan ini ibarat pedang bermata dua. Ketika musim kemarau panjang 2024 melanda, ratusan dusun di Lamongan tercatat mengalami krisis air bersih.
Data BPBD menunjukkan sedikitnya 150 dusun di 12 kecamatan harus menerima dropping air. Fakta ini menegaskan bahwa produktivitas tinggi Lamongan masih rapuh jika pengelolaan air tidak diperkuat secara merata.
Strategi Diversifikasi Tanaman
Selain mengandalkan dua sungai, pemerintah kabupaten bersama kelompok tani menerapkan diversifikasi pola tanam. Pada lahan tertentu, padi digilir dengan jagung atau kedelai. Strategi ini terbukti efektif menekan risiko gagal panen akibat kekurangan air, sekaligus menjaga ketahanan pangan berbasis lokal.
Program diversifikasi ini juga sejalan dengan arahan Kementerian Pertanian agar daerah lumbung pangan melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi yang seimbang. Tidak hanya mengejar produksi padi, tetapi juga menjaga keberagaman pangan.
Tantangan dan Arah ke Depan
Meski sukses, Lamongan masih menghadapi beberapa tantangan krusial:
1. Krisis air musiman – pasokan air sangat bergantung pada kondisi hulu Bengawan Solo dan Brantas.
2. Perubahan iklim – curah hujan tidak menentu mengganggu jadwal tanam.
3. Sedimentasi saluran irigasi – mengurangi efisiensi distribusi air ke lahan-lahan pertanian.
Ke depan, penguatan embung desa, sumur resapan, dan sistem irigasi modern menjadi keharusan agar produktivitas Lamongan tidak hanya bertumpu pada dua sungai besar.
Penutup
Keberhasilan Lamongan mempertahankan posisi sebagai penghasil beras terbesar di Jawa Timur adalah kombinasi dari ketergantungan pada dua sungai besar dan strategi diversifikasi tanam melalui peningkatan luas tambah tanam.
Namun, keberlanjutan capaian ini akan sangat ditentukan oleh bagaimana Lamongan mampu mengelola air secara lebih efisien dan berkelanjutan.(feb)
Editor : Anjar D. Pradipta