RADARLAMONGAN.CO, JAWAPOS.COM – Apa yang dulu dianggap mustahil akhirnya jadi kenyataan. Tepat 17 Agustus lalu, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menekan tombol operasional Jalan Lingkar Utara (JLU). Hanya hitungan hari, wajah lalu lintas Kota Lamongan berubah drastis.
Kemacetan legendaris di perlintasan kereta api Jalan Panglima Sudirman dan Jaksa Agung Suprapto—khususnya setiap Senin pagi bak “neraka kecil” bagi pengendara—mendadak sirna. Tidak ada lagi antrean kendaraan yang mengular, tidak ada lagi sumpah serapah pengendara ketika KA lewat. Kota Lamongan akhirnya bernapas. “Ini bukan sekadar jalan baru, tapi napas baru bagi Lamongan,” tegas Pak Yes, sapaan akrab Bupati Yuhronur Efendi.
Senin Pagi dan Arus Mudik Tak Lagi Mencekam
Selama bertahun-tahun, Senin pagi di Lamongan adalah horor bagi para pekerja dan pelajar. Ribuan kendaraan dari Surabaya, Gresik, hingga Bojonegoro tumpah ruah melintasi pusat kota, ditambah pintu kereta api yang tak kenal kompromi. Hasilnya: kemacetan mengular, polusi, dan produktivitas yang tersedot.
Namun sejak JLU dibuka, situasi itu berubah 180 derajat. Arus kendaraan berat dialihkan keluar kota. Data Dinas Perhubungan mencatat penurunan volume lalu lintas di pusat kota hingga 35% hanya dalam dua pekan pertama operasional JLU. “Dulu setiap Senin pagi atau KA lewat, jalan seperti lumpuh. Sekarang jalan jadi lancar. Lamongan sekarang bebas macet,” ujar salah satu warga Sukodadi Lamongan yang setiap hari bekerja ke Surabaya, Suroto.
Realitas itu juga menjadi harapan menggembirakan saat masa arus mudik dan lebaran mendatang. Tidak lagi menghadapi kemacetan di Kota Soto tersebut. Karena selama ini para pemudik selalu trauma menghadapi kemacetan di Lamongan.
Data Keras yang Tak Terbantahkan
Selama ini, kawasan Babat dan pusat Lamongan memang terkenal sebagai titik merah lalu lintas. Studi terbaru menunjukkan, di Jalan Raya Babat (depan Pasar Babat), arus puncak bisa mencapai 2.842 kendaraan/jam, dengan hambatan samping setinggi 700 kejadian/jam. Itu angka yang mustahil ditelan oleh kapasitas jalan perkotaan biasa.
Tak heran, setiap musim mudik lebaran atau Senin pagi, Lamongan berubah menjadi parkiran raksasa. Kini, JLU sepanjang 7,15 km yang menghubungkan Rejosari (Deket) hingga Plosowahyu (Lamongan) sukses menyedot arus itu keluar kota.
Tak Sekadar Jalan, tapi Trigger Ekonomi Baru
JLU bukan hanya mengurai macet. Jalur ini membuka pintu bagi geliat ekonomi pinggiran kota. Pemkab Lamongan sudah menyiapkan skema pengembangan kawasan di sepanjang lingkar, mulai dari relokasi Pasar Ikan, pembangunan SPBU baru, hingga peluang usaha kuliner dan logistik. “JLU akan jadi magnet investasi. Kita sedang menyiapkan agar jalan baru ini tidak hanya berfungsi sebagai jalur kendaraan, tapi juga pusat pertumbuhan ekonomi baru,” jelas Bupati YES.
Catatan Penting: Keselamatan Jangan Ditinggalkan
Namun, di balik euforia ini, ada PR besar. Evaluasi masih terus berjalan. JLU baru dilengkapi 3 traffic light dan warning light di titik vital. Padahal Dishub menilai ada dua simpang lagi yang rawan kecelakaan dan butuh lampu tambahan. DPRD bahkan mendesak pemasangan lampu jalan lebih masif demi menghindari korban.
Pemerintah pusat melalui BBPJN sudah memastikan 10 unit APILL akan dipasang penuh, dengan fase waktu yang terus disetel sesuai volume kendaraan. Artinya, JLU masih “bayi” yang terus dipoles.
Efek Domino: Wacana Lingkar Selatan Babat
Satu hal yang kini jadi pembicaraan hangat: keberhasilan JLU membuka peluang realisasi Jalan Lingkar Selatan (JLS) Babat. Kawasan Babat selama ini adalah “bottle neck” Pantura Lamongan yang belum tersentuh solusi. Jika JLS Babat terwujud, maka “cekikan lalu lintas” Lamongan benar-benar akan hilang dari peta nasional. JLU adalah awal. Kalau JLS Babat terealisasi, Lamongan bukan cuma bebas macet, tapi juga jadi episentrum logistik Pantura yang modern.
Pembukaan JLU Lamongan 17 Agustus bukan seremoni basa-basi. Ia membuktikan bahwa problem menahun bisa diurai ketika ada kemauan politik dan kerja nyata. Kota yang dulu identik dengan macet kronis kini berubah menjadi lebih ramah, efisien, dan menjanjikan.(feb)
Editor : Anjar D. Pradipta