Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Reaktivasi Jalur KA Tuban–Jombang via Babat, Non Aktif Sejak 1981, Inilah Prospeknya

Bachtiar Febrianto • Kamis, 31 Juli 2025 | 14:05 WIB
Jembatan Cincin Lama dulu dilintasi oleh Kereta Api Jurusan Tuban-Jombang
Jembatan Cincin Lama dulu dilintasi oleh Kereta Api Jurusan Tuban-Jombang

RADARLAMONGAN.CO, JAWAPOS.COM – Dahulu menjadi tulang punggung moda transportasi penumpang dan barang antarkota, jalur kereta api Tuban–Jombang yang melewati Babat menghilang dari peta transportasi nasional sejak tahun 1981 akibat keterbatasan modalitas baru.

Kini, reaktivasi jalur legendaris ini mulai dipertimbangkan kembali sebagai bagian dari program Proyek Strategis Nasional (PSN), masuk prioritas oleh Pemprov Jatim, Pemkab Tuban, dan Pemkab Lamongan.

Sejarah Singkat: Andalan Transportasi 1970 an hingga Penutupan

Jalur sepanjang kurang lebih 71 km ini dioperasikan sejak era kolonial hingga 1981, menghubungkan Babat–Jombang, melewati 7 stasiun dan puluhan perlintasan sebidang.

Popularitasnya menurun seiring pesatnya pembangunan jalan raya dan angkutan lain, sehingga PNKA menutup operasional pada awal dekade 80-an.

Kondisi Sekarang & Rencana Reaktivasi

Pemprov Jatim, Pemkab Tuban, dan Pemkab Lamongan bersama PT KAI kini tengah memetakan apakah akan menggunakan jalur lama atau membangun trase baru.

Studi pemetaan oleh KAI dan lembaga Bandung sedang berjalan, sementara sebagian jalur lama kini sudah ditempati rumah penduduk, sekolah, dan fasilitas publik. Keputusan final masih menunggu rekomendasi KAI.

Biaya & Spesifikasi Teknis

Kajian Tugas Akhir Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) merekomendasikan reaktivasi jalur sepanjang 68,7 km dengan double track lebar 1.067 mm dan kecepatan desain hingga 120 km/jam.

Estimasi biaya mencapai Rp 2,45 triliun. Rencana ini sesuai Kepmenhub No. 2128 Tahun 2018 serta tercantum dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional dan Perpres No. 80 Tahun 2019 sebagai bagian dari PSN kawasan Gerbangkertosusila.

Peluang Positif Reaktivasi

1. Konektivitas dan Mobilitas Masyarakat – Akan mendukung mobilitas warga Tuban–Lamongan- Jombang maupun akses pekerja ke kawasan industri dan proyek kilang GRR Tuban ke wilayah selatan Jatim.

2. Ekonomi Lokal & Indukstri – Jalur ini bisa melayani angkutan petrokimia dan hasil industri, mengurangi ketergantungan truk, serta meningkatkan efisiensi logistik GRR Tuban ke dan dari wilayah selatan Jatim.

3. Pengurangan Kemacetan & Emisi – Dengan moda rel, lalu lintas antarkota dapat terkendali, meminimalkan kemacetan di jalan raya serta polusi.

Tantangan & Risiko

1. Pembebasan Lahan & Ganti Rugi – Banyak kawasan jalur lama kini berubah menjadi permukiman atau fasilitas publik. Proses pembebasan lahan akan kompleks dan mahal.

2. Biaya Investasi Tinggi – Dibutuhkan dana besar untuk trase baru, penataan ulang halte/stasiun, dan fasilitas pendukung. Jalur lama sering kali sudah tidak layak pakai.

3. Sinkronisasi Pemerintah Daerah dengan Pusat – Pemilihan rute tetap menjadi kewenangan Kemenhub dan PT KAI; koordinasi masih dalam tahap awal.

4. Tingkat Permintaan Publik – Meski publik menyambut baik reaktivasi, implementasi rute lama dapat menimbulkan resistensi karena potensi penggusuran dan dampak sosial.

Reaktivasi jalur KA Tuban–Jombang melalui Babat bukan sekadar nostalgia transportasi era 70-an, melainkan peluang strategis untuk meningkatkan konektivitas, efisiensi logistik industri dan mobilitas publik.

Namun, dibalik potensi positifnya, tantangan besar soal trase, pembiayaan, dan sosial harus ditangani secara matang. Study detil kini masih berjalan, dan keputusan akan ditetapkan di bawah koordinasi pemerintah pusat dan daerah.

Jika terealisasi, jalur ini bisa menjadi moda penting dalam revitalisasi transportasi darat Jawa Timur yang efektif dan efisien menuju era modern. (feb)

Editor : Anjar D. Pradipta
#babat #jombang #lamongan #tuban #pt kai #jalur ka