RADARLAMONGAN.CO, JAWAPOS.COM – Kabupaten Lamongan selama ini dikenal sebagai Kota Soto, tapi siapa sangka bahwa wilayah ini ternyata menyimpan potensi sumber daya alam berupa minyak bumi. Sejak era 1970-an, berbagai upaya eksplorasi minyak dan gas (migas) telah dilakukan di sejumlah titik di Lamongan.
Meski hingga kini belum satu pun sumur yang berproduksi secara komersial, sejumlah data menunjukkan bahwa perut bumi Lamongan memiliki indikasi cadangan minyak yang menjanjikan.
Eksplorasi Sejak 1970-an.
Catatan sejarah menyebutkan bahwa pada tahun 1970-an, tenaga ahli asing pernah melakukan eksplorasi minyak di Lamongan. Sayangnya, informasi resmi mengenai hasil kegiatan tersebut sangat terbatas. Namun jejaknya menandai bahwa Lamongan sudah masuk dalam radar potensi migas nasional sejak lebih dari setengah abad lalu.
Upaya eksplorasi lebih modern mulai terlihat kembali pada tahun 2005, saat JOB Pertamina–Petronas East Java (JOB-PPEJ) melakukan pengeboran dua sumur eksplorasi, Gondang I dan Gondang II, di Desa Balongwangi, Kecamatan Tikung.
Namun kedua sumur tersebut ditutup karena hasil pengeboran dinilai tidak ekonomis—tidak ditemukan cadangan migas dalam jumlah yang layak untuk diproduksi.
Survei Seismik Skala Besar.
Pada 2012–2013, Pertamina EP melalui Blok Nona melakukan survei seismik besar-besaran di 11 kecamatan, antara lain Tikung, Kembangbahu, Sambeng, Mantup, Sugio, Babat, Kedungpring, Modo, Bluluk, Ngimbang, dan Sukorame. Survei 2D dilakukan sepanjang 151,5 kilometer dan 3D seluas 522 kilometer persegi. Hasil survei ini menunjukkan indikasi struktur geologi yang berpotensi menyimpan minyak dan gas.
Survei ini membuka jalan untuk tahap eksplorasi lanjutan. Beberapa titik bahkan telah ditargetkan untuk pengeboran, seperti wilayah Girik dan Ngimbang. Namun lagi-lagi, proses menuju pembuktian cadangan migas belum berhasil melahirkan sumur produksi.
Sumur Kasuari Emas: Harapan yang Belum Terwujud.
Pada pertengahan 2021, SKK Migas Jabanusa bersama Pertamina EP Asset 4 kembali melakukan pengeboran di Lamongan melalui sumur eksplorasi Kasuari Emas (KSE-001) di Desa Beru, Kecamatan Sarirejo. Target kedalaman pengeboran mencapai 1.270 meter dengan menyasar dua formasi geologi: Tuban dan Ngrayong. Pengeboran berlangsung selama lebih dari satu bulan, namun dinyatakan sebagai dry hole—tidak ditemukan minyak dalam volume ekonomis.
Meski demikian, pengeboran KSE-001 tetap memberikan data geologi penting untuk eksplorasi lanjutan di masa mendatang.
Potensi Masih Terbuka.
Menurut SKK Migas, Indonesia masih memiliki 68 cekungan migas yang belum dieksplorasi, dan salah satunya mencakup wilayah Jawa Timur, termasuk Lamongan. Potensi nasional dari cekungan belum tergarap ini diperkirakan mencapai 2,41 miliar barel minyak dan 35,3 TCF gas bumi. Artinya, Lamongan masih punya peluang jika ditangani dengan teknologi modern dan strategi eksplorasi yang lebih matang.
Wilayah pesisir Lamongan yang berdekatan dengan Blok Pangkah—di mana Saka Energi pernah menemukan indikasi minyak di sumur Tambakboyo 3—menambah alasan bahwa kawasan ini belum kehilangan harapan.
Dukungan Masyarakat dan Tantangan.
Pemerintah Kabupaten Lamongan menunjukkan sikap terbuka terhadap aktivitas migas, asal dilakukan dengan sosialisasi yang baik dan tidak merugikan masyarakat. Saat pengeboran KSE-001 dilakukan, masyarakat Desa Beru dan Canggah dilibatkan dalam perencanaan dan pengerjaan proyek sebagai bentuk mitigasi sosial.
Namun tantangan tetap ada. Minimnya hasil komersial dari eksplorasi yang sudah dilakukan membuat investor lebih berhati-hati. Diperlukan insentif, pendekatan teknologi baru seperti seismik 4D, hingga kolaborasi dengan investor global agar Lamongan tidak hanya menjadi "wilayah potensial", tetapi juga wilayah penghasil migas.
Meski hingga 2025 Lamongan belum mencatat satu pun sumur migas yang aktif berproduksi, sejarah panjang eksplorasi dan data geologi yang ada menunjukkan potensi nyata. Dari Gondang I/II, survei seismik Blok Nona, hingga Kasuari Emas KSE-001, semua menjadi bukti bahwa Lamongan bukan wilayah kosong energi.
Pertanyaannya tinggal satu: siapa yang akan berani datang kembali dan menggali potensi Lamongan menjadi kekuatan energi baru dari Jawa Timur? (feb)
Editor : Anjar D. Pradipta