RADARLAMONGAN.CO, JAWA POS.COM — Pelabuhan Sedayulawas di Brondong, Lamongan menyimpan misteri sebagai salah satu titik pendaratan pasukan Mongol (Tartar) dalam invasi ke Kerajaan Singosari tahun 1293.
Sejauh ini diyakini armada besar Yuan dari Cina tersebut mendarat di Tuban. Namun kuat dugaan bahwa jumlah kapal dan prajurit yang sangat besar, mencapai hingga 500 kapal dan 20–30 ribu tentara itu tidak cukup untuk hanya berlabuh di satu tempat saja. Sehingga sebagian mendarat di Pelabuhan Sedayulawas yang berada di sebelah timur Tuban.
Fakta Menguak Misteri.
- 500 kapal ekspedisi disebut tercatat dalam Prasasti Pasir Kapal di Pulau Serutu indikasi kuat jumlah armada ini signifikan.
- Pelabuhan Sedayulawas, juga dikenal sebagai “Pelabuhan Sedayu Lawas”, tercatat sebagai pelabuhan penting sejak era Singosari-Majapahit.
- Geografi pesisir Lamongan memang memungkinkan kapal-kapal mendekat langsung dari Laut Jawa sebelum melanjutkan perjalanan darat.
Rute Pergerakan Pasukan.
Setelah mendarat di Pelabuhan Tuban dan Sedayulawas, pasukan Mongol melanjutkan perjalanan via darat melewati titik-titik strategis berikut:
- Babat – pintu masuk daratan dari pesisir.
- Ngimbang – melintasi dataran tinggi kapur.
- Jombang – sebagai koridor utama.
- hingga akhirnya ke Kediri, yang saat itu menjadi pusat kekuasaan Kerajaan Kediri yang dipimpin Jayakatwang pasca kematian Raja Singosari, Kertanegara.
Konflik dan Klimaks.
Dalam perjalanan ini, pasukan Mongol dibantu Raden Wijaya (menantu Raja Kertanegara) dalam menumbangkan Jayakatwang di Kediri, yang dikira Singosari oleh Pasukan Tartar.
Serangan gabungan tersebut menewaskan sekitar 5.000 – 10.000 prajurit Kediri, sebagian besar dalam pertempuran di Daha dan area sungai Kali Mas.
Namun kisah selanjutnya ketika Raden Wijaya dengan pasukannya menyerang balik, memaksa pasukan Yuan mundur dan kembali ke kapal mereka untuk pulang ke negaranya dalam keadaan kalah.
Relevansi Historis.
Ekspedisi ini memicu lahirnya Kerajaan Majapahit (1294), yang kemudian menjadi kerajaan terbesar di Nusantara. Dari peristiwa tersebut kemudian disinyalir memicu adopsi teknologi baru di Asia Tenggara, seperti teknik pembuatan kapal dengan stabilitas bulkhead dan penambahan meriam awal dalam pertempuran.
Jejak pasukan Tartar di tanah Jawa, terutama di pesisir Lamongan, menjadi potongan sejarah penting yang nyaris terlupakan.
Jika benar pasukan Mongol pernah menginjakkan kaki di Sedayulawas, maka Lamongan memiliki peran strategis dalam salah satu peristiwa militer terbesar di Asia Tenggara abad ke-13.
Kini, lokasi-lokasi yang dilalui pasukan asing itu—dari Brondong, Babat, Ngimbang, hingga Jombang dan Kediri—menyimpan cerita yang menunggu untuk digali lebih dalam. Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, tapi juga cermin perjalanan bangsa menuju masa depan.(feb)
Editor : Anjar D. Pradipta