RADARLAMONGAN.CO, JAWAPOS.COM – Di setiap sudut kota, dari Jakarta, Palembang, Makassar hingga bahkan Kuala Lumpur dan Taiwan, warung soto Lamongan dan warung Madura bisa dengan mudah dijumpai.
Di balik warung-warung itu, ada cerita dua suku dari pesisir utara Jawa Timur yang dikenal sebagai “perantau sejati”: orang Lamongan dan orang Madura.
Sekilas mereka tampak sama: gigih, tahan banting, berani merantau sejak muda, dan tangguh membangun usaha dari nol. Tapi jika dilihat lebih dekat, cara mereka merantau punya warna dan ciri khas masing-masing.
Lamongan: Perantau Kuliner yang Terorganisir.
Orang Lamongan dikenal sebagai penguasa lini kuliner kaki lima. Soto Lamongan, pecel lele, hingga tahu campur menjadi wajah khas di ratusan kota.
Berdasarkan data Dinas Koperasi dan UKM Lamongan (2024), ada lebih dari 17.000 pelaku usaha kuliner berbasis Lamongan yang merantau ke luar daerah bahkan luar negeri. Kalau sudah ada satu buka warung, yang lain pasti ikut. Mereka saling bantu.
Mereka biasanya merantau dalam jaringan keluarga atau tetangga satu desa, dan tetap mempertahankan identitas kuliner asli. Promosi mereka sederhana, cukup pasang tulisan "Soto Lamongan" atau "Pecel Lele Lamongan", maka pembeli pun berdatangan.
Madura: Penguasa Warung 24 Jam dan Besi Tua.
Berbeda dengan Lamongan, orang Madura lebih beragam dalam jenis usahanya. Mereka tak hanya berdagang sate atau makanan khas seperti nasi Babat, tapi juga mendominasi warung Madura 24 jam, tukang potong rambut, hingga pedagang dan pengepul besi tua.
Orang Madura cepat melihat peluang. Di mana ada lahan kosong atau sudut strategis, mereka bisa buka usaha.
Menurut kajian Universitas Trunojoyo (2023), perantau Madura memiliki kemampuan adaptasi tinggi dan tidak bergantung pada satu jenis usaha. Bahkan, banyak yang sukses di bidang nonformal seperti ekspedisi, sopir logistik, atau buruh migran ke Malaysia dan Arab Saudi.
Apa yang Membedakan Mereka?
1. Pola Merantau.
- Lamongan: cenderung kelompok dan bidang kuliner.
- Madura: lebih individual dan diversifikasi usaha.
2. Citra Sosial.
Lamongan sering dianggap "ramah kota" karena kulinernya dekat dengan selera masyarakat urban.
Madura kadang dianggap “keras”, tapi justru itu yang membuat mereka ulet dan tidak mudah menyerah.
3. Skema Bisnis.
Lamongan mengandalkan kekuatan komunitas dan identitas masakan daerah.
Madura mengandalkan fleksibilitas, keberanian mengambil risiko, dan kerja keras tanpa batas waktu.
Keduanya Adalah Wajah Wirausaha Nusantara.
Meski berbeda cara, baik perantau Lamongan maupun Madura telah membuktikan satu hal: bahwa semangat bekerja keras dan mandiri bisa mengubah nasib siapa pun.
Mereka adalah pelopor ekonomi akar rumput yang menciptakan lapangan kerja, memperkenalkan budaya daerah, dan membangun jaringan ekonomi dari bawah.
Tak berlebihan dikatakan, jika perut Indonesia banyak dipenuhi oleh rasa khas Lamongan, maka denyut ekonomi kecil di banyak sudut kota berdetak dari tangan-tangan ulet orang Madura.
Mereka bukan hanya perantau, tapi duta daerah yang menjadikan usaha kecil sebagai jalan menuju kesejahteraan.(feb)
Editor : Anjar D. Pradipta