Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Fenomena Pecel Lele Lamongan: Sukses Mendunia, Meski Pantang Dimakan di Daerahnya

Bachtiar Febrianto • Minggu, 29 Juni 2025 | 18:55 WIB

 

Meskipun dianggap kuliner asal Lamongan, Warga asli Lamongan masih banyak yang memeprcayai tidak boleh mengkonsumsi ikan lele.
Meskipun dianggap kuliner asal Lamongan, Warga asli Lamongan masih banyak yang memeprcayai tidak boleh mengkonsumsi ikan lele.

LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO– Di banyak sudut kota besar Indonesia, warung tenda bertuliskan “Pecel Lele Lamongan” berdiri kokoh, buka menjelang malam, dan hampir tak pernah sepi pembeli.

Anehnya, meski lele menjadi ikon kuliner khas Lamongan, sebagian masyarakat asli Lamongan justru meyakini bahwa ikan lele adalah makanan yang harus dihindari. Sebuah ironi budaya yang unik sekaligus menarik.

Pantangan yang Lahir dari Sejarah.

Mitos larangan makan lele di kalangan warga tertentu Lamongan, terutama di desa Medang, Kecamatan Glagah, dipercaya berasal dari sosok Boyo Pati, pengikut Sunan Giri.

Konon, Boyo Pati pernah diselamatkan dari kejaran musuh oleh kawanan lele yang menutupinya saat ia bersembunyi di kolam. Sebagai bentuk terima kasih, ia bersumpah tidak akan memakan ikan lele dan mewariskan pantangan itu kepada keturunannya.

Larangan ini masih hidup hingga kini. Warga Medang misalnya, meyakini siapa pun yang melanggar akan mengalami gangguan kesehatan seperti kulit bersisik atau gatal menahun.

Bahkan budidaya lele di pekarangan pun dianggap tabu. Masyarakat setempat menjaga kepercayaan itu dengan ritual haul tahunan sebagai penghormatan pada Boyo Pati.

Dari Pantangan Menjadi Ladang Rezeki.

Ironisnya, di luar kampung halaman, warga Lamongan justru dikenal sebagai pionir dan raja bisnis pecel lele. Di Jakarta, Bandung, hingga pelosok Kalimantan, tenda-tenda pecel lele dengan embel-embel "Lamongan" menjadi primadona kuliner malam.

Bahkan di Jabodetabek, diperkirakan ada lebih dari 3.000 warung pecel lele yang dikelola oleh perantau asal Lamongan.

Mereka tidak hanya menjual makanan, tapi juga menjual brand dan citra. Nama “Lamongan” menjadi jaminan rasa, terutama karena sambal khasnya yang diulek langsung dengan bumbu kacang dan terasi.

Warung-warung ini juga memiliki tampilan khas: spanduk kain dengan warna mencolok dan menu sederhana – lele goreng, ayam goreng, tahu tempe, dan sambal yang menggugah selera.

Menurut data komunitas “Pecel Lele Lamongan Indonesia”, jumlah anggota yang tergabung mencapai lebih dari 61 ribu orang, membentuk jaringan solidaritas antarpedagang yang saling mendukung dari kota ke kota.

Mitos yang Bertahan, Bisnis yang Berkembang.

Meski banyak dari mereka enggan makan lele, para perantau Lamongan tidak ragu mengolah dan menjualnya. Ada yang menyebut ini sebagai “kompromi budaya” antara tradisi dan tuntutan ekonomi.

Selama tidak dimakan sendiri, bagi mereka tidak ada masalah. Bahkan banyak yang sukses membangun bisnis pecel lele hingga membuka beberapa cabang dan mempekerjakan puluhan orang.

Pakar sosiologi Universitas Airlangga menyebut fenomena ini sebagai bentuk adaptasi budaya yang cerdas.

"Warga Lamongan tidak kehilangan identitas, tetapi bisa membungkusnya menjadi kekuatan ekonomi. Tradisi tidak mati, tapi juga tidak menutup jalan rezeki," katanya.

Dari larangan makan lele di kampung halaman, hingga kejayaan pecel lele di seluruh negeri, kisah warga Lamongan adalah bukti bahwa budaya dan bisnis bisa berjalan berdampingan.

Mereka mengajarkan bahwa melestarikan tradisi tidak harus membatasi langkah, selama ada ruang untuk menghormati sejarah dan membangun masa depan.(feb)

Editor : Anjar D. Pradipta
#sunan giri #mitos larangan #lamongan #kecamatan glagah #lele #pecel lele #universitas airlangga