LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO - Pernah ke Lamongan? Tapi kalau belum pernah dengar kok iye, pareg, atau dalu, bisa jadi kamu ke Lamongan cuma mampir makan soto.
Lamongan bukan cuma soal kuliner, bahasa sehari-harinya juga unik, lucu, dan sering bikin orang luar bingung sekaligus penasaran.
Berikut kata-kata atau dialek khas Lamongan yang jarang diketahui, tapi justru bikin daerah ini terasa beda:
1. Kok Iye? (Bagaimana).
Ungkapan kata saat mempertanyakan sesuatu, daerah lain sering menyebut Yaopo atau piye. Dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai kata, Bagaimana?
Contoh: "Kok iye? sido mangan sego boran opo soto?"
Artinya: "Bagaimana? jadi makan nasi boran atau soto?"
2. Pareg (Dekat).
Diluar Lamongan sering menyebut Cedhak atau Cidhek. Saat mengucapkan kata ini, orang Lamongan condong menggunakan huruf akhiran G dari pada K. Medhok-nya lebih terasa khas Lamongan banget.
Contoh: "Omahe pareg terminal Lamongan".
Artinya: "Rumahnya dekat terminal Lamongan".
3. Dalu (Malam).
Ada beberapa versi bahasa jawa saat menyebut kata malam. Namun, bagi sebagian besar masyarakat Lamongan, lebih sering menggunakan kata dalu dibanding bengi.
Contoh: "Wis dalu, ndang mulih!"
Artinya: Sudah malam, segera pulang!"
4. Lesu (Lapar).
Hati-hati salah paham. Kalau kamu denger orang bilang “aku lesu” di Lamongan, jangan langsung nyodorin balsem. Bisa jadi yang dia maksud adalah lapar berat. Daerah lain lebih sering menggunakan kata Luwe (bukan lebih, Red).
Contoh: “Mbok yo ndang masak, aku wes lesu pol.”
Artinya: "Lekas memasak, saya sudah sangat lapar".
5. Tekan (Sampai).
Di wilayah Surabaya dan sekitarnya, orang saat bertanya sering menggunakan kata “Teko endi?, Tapi di Lamongan? "Tekan endi?"
Artinya: "Sampai mana?"
6. Ijenan (Sendirian).
Kata ini tergolong masih lumrah, tapi sebagian orang luar lamongan sering menyebut dengan kata Dewean.
Contoh: "Budhal ijenan ta?"
Artinya: "Berangkat sendirian-kah?"
7. Kringi (Dengar).
Kalau di tempat lain orang bilang krungu, orang aseli Lamongan sering menyebut kringi.
Contoh: "Wis kringi ta? mene ono acara"
Artinya: "Sudah dengarkan besok ada acara".
8. Bandak (Biarkan / biarlah).
Lagi males debat atau pusing mikirin omongan orang? Orang Lamongan cukup bilang: “Bandak wae.” Artinya, "Ya udah, biarkan saja".
Di daerah lain yang menggunakan bahasa jawa, terutama wilayah yang menggunakan dialek Arekan sering menyebut dengan kata Bahno, Babah, atau Behne.
Bahasa yang Punya Karakter Sendiri.
Semua kata-kata ini bukan cuma kosakata biasa. Dialek khas adalah cara hidup, penanda identitas, dan pengikat rasa di antara warga Lamongan.
Bagi yang lahir dan besar di Lamongan, logat ini nempel seperti aroma pagi di dapur rumah. Dan bagi perantau, satu ucapan seperti “kok iye” saja cukup bikin ingat kampung halaman. (jar)
Editor : Anjar D. Pradipta