RADARLAMONGAN.CO - Kabupaten Lamongan bukan sekadar kawasan agraris biasa di pesisir utara Jawa Timur. Kabupaten ini memiliki keunikan geografis yang membentuk tiga wajah wilayah berbeda: pesisir di utara, tambak dan lahan pertanian di wilayah tengah, serta hutan dan pertanian tadah hujan di bagian selatan.
Ketiga zona geografis ini bukan hanya menggambarkan lanskap alam, tetapi juga membentuk dinamika ekonomi dan sosial masyarakat Lamongan secara nyata.
Utara Lamongan: Pesisir Penghasil Ikan Tangguh.
Wilayah utara Lamongan berbatasan langsung dengan Laut Jawa, dengan garis pantai sepanjang ±47 km. Kecamatan seperti Brondong, Paciran, dan Labuhan menjadi pusat aktivitas nelayan.
Berdasarkan data Dinas Perikanan Lamongan (2024), total produksi perikanan tangkap mencapai lebih dari 115.000 ton per tahun, menempatkan Lamongan sebagai salah satu lumbung ikan terbesar di Jawa Timur.
Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong menjadi pusat pendaratan ikan skala besar yang mengekspor hasil laut hingga ke luar negeri.
Komoditas andalan seperti cakalang, tongkol, dan cumi menjadi sumber penghidupan ribuan nelayan. Namun, masyarakat pesisir juga menghadapi tantangan seperti cuaca ekstrem, penurunan stok ikan musiman, dan fluktuasi harga.
Wilayah Tengah: Tambak, Pertanian, dan Perdagangan.
Wilayah tengah Lamongan seperti Kecamatan Karangbinangun, Turi, dan Glagah dikenal sebagai pusat pertambakan dan pertanian padi. Berdasarkan BPS Lamongan 2023, luas panen padi mencapai 83.000 hektare dengan produksi padi mendekati 500.000 ton gabah.
Tambak air tawar juga mendominasi, dengan budidaya bandeng dan udang windu menyumbang pendapatan ekonomi masyarakat.
Kawasan tengah ini juga merupakan jalur utama perdagangan, seperti Kecamatan Babat karena dilintasi jalan nasional Surabaya-Tuban.
Tumbuh subur berbagai UMKM dan pasar tradisional yang menopang ekonomi lokal. Industri kecil seperti pengolahan hasil pertanian, keripik, dan batik tulis Sendangduwur ikut berkembang.
Selatan Lamongan: Perhutanan dan Pertanian Tadah Hujan.
Bagian selatan Lamongan meliputi kecamatan Ngimbang, Sambeng, Mantup, Bluluk, Sukorame, dan sekitarnya.
Kawasan ini bergelombang dan didominasi hutan rakyat serta perkebunan kayu jati. Sebagian besar sawah di sini adalah tadah hujan, bergantung pada musim hujan, membuat hasil panen tidak setinggi wilayah tengah.
Meski begitu, potensi agroforestry dan ekowisata hutan menjadi perhatian pemerintah daerah. Kelompok tani hutan dan koperasi desa mulai mengembangkan komoditas seperti empon-empon, porang, dan kayu putih.
Karakter Sosial Ekonomi yang Beragam
Dengan tiga karakter wilayah tersebut, masyarakat Lamongan menunjukkan keberagaman sosial-ekonomi yang khas:
- Masyarakat pesisir cenderung terbuka dan dinamis, karena berinteraksi dengan pelabuhan dan pasar luar daerah.
- Masyarakat tengah relatif lebih stabil secara ekonomi karena bertumpu pada pertanian intensif dan perdagangan.
- Masyarakat selatan relatif lebih tenang memanfaatkan ekonomi relatif kecil berbasis hutan, namun rawan krisis air dan infrastruktur.
Kabupaten Lamongan membuktikan bahwa satu daerah bisa memiliki tiga karakter wilayah dengan peran ekonomi yang saling menguatkan.
Dengan strategi pembangunan yang sesuai dengan kekhasan masing-masing wilayah, Lamongan berpeluang besar menjadi kabupaten dengan pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan di Jawa Timur. (feb)
Editor : Anjar D. Pradipta