radarlamongan.co – jawaposradarlamongan – Wilayah Polres Lamongan diduga menjadi tempat persembunyian pelaku pembunuhan Ml, 41, di wilayah Polres Gresik.
Ml tega menghabisi nyawa istrinya, Mf.
Hingga Minggu (24/11), tim gabungan Polsek Driyorejo dan Unit Resmob Satreskrim Polres Gresik berupaya memburu pria asal Nusa Tenggara Timur (NTT) itu.
Satreskrim Polres Gresik berkeyakinan pelaku masih berada di wilayah Jawa Timur.
Bahkan, tidak terlalu jauh dari Gresik.
‘’Sempat terdeteksi di Lamongan. Namun, tim masih terus bergerak untuk proses penyelidikan lebih lanjut,” jelas Kapolsek Driyorejo AKP Musihram.
Pembunuhan di Desa Mojosarirejo, Kecamatan Driyorejo, itu terjadi pada Sabtu (23/11).
Ml sangat sadis terhadap istrinya.
Hasil penyelidikan awal, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) itu dipicu permasalahan ekonomi.
Akibat penganiayaan dengan senjata tajam, korban menderita empat luka tusukan pada bagian punggung.
Dari hasil otopsi jasad korban, Mf selain mengalami setidaknya empat luka tusuk pada bagian punggung, juga terluka memar pada bagian pelipis.
‘’Meninggalkan barang bukti sebuah obeng dan sarung pisau. Kuat dugaan digunakan untuk menganiaya korban,” ujarnya.
’’Barang bukti pisau belum ditemukan. Ada kemungkinan masih dibawa pelaku saat melarikan diri,’’ imbuhnya.
Saat menganiaya dan menghabisi nyawa korban itu, dilakukan pelaku di depan kedua anaknya yang masih di bawah umur.
”Perkembangan lebih lanjut akan kami sampaikan,’’ kata mantan Kapolsek Cerme itu.
Sementara itu, Kepala Desa Mojosarirejo, Sukendah, menjelaskan, sehari – hari Ml dikenal sebagai seorang sopir truk.
Sudah dua tahun ini pelaku mengontrak di desa setempat.
Selama menghuni rumah kontrakan itu, Ml jarang terlibat mengikuti kegiatan yang digelar warga.
’’Jarang pulang ke rumahnya. Saat pulang, hanya sebentar, lalu kembali bekerja,’’ ujarnya.
Berdasarkan keterangan kades itu, Ml adalah seorang duda yang memiliki dua anak.
Ml lalu menikahi Mf dan mengontrak rumah di desa setempat.
Status kependudukannya juga masih tercatat sebagai warga Desa Sekon, Kecamatan Insana, NTT.
”Sangat menyayangkan peristiwa tersebut. Padahal, sesama perantau, korban juga sudah rela mengasuh dua anaknya,’’ ujar Sukendah seperti dilansir Jawa Pos. (*)
Editor : Arya Nata Kesuma