radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Dinas Kesehatan (Dinkes) Lamongan terus melakukan pencarian kasus aktif tuberkulosis (TB). Hasilnya, 2.000 kasus TB ditemukan dari skrining yang dilakukan.
Kepala Dinas Kesehatan Lamongan, dr Chaidir Annas, melalui Kabid P2P, dr Yani Khoirurrakhmawati, menjelaskan, skrining TB sudah dilakukan kepada 15 ribu orang.
Skrining terfokus ini bahkan sudah memanfaatkan fasilitas X-Ray (ronsen dada) untuk akurasi diagnosis.
Dari target 4.000 kasus yang ditetapkan tahun ini, per semester pertama ini sudah tercapai setengahnya, yakni 2.000 kasus.
Dinkes memasang target tinggi dengan harapan semakin banyak kasus yang ditemukan dan disembuhkan, maka rantai penularan di masyarakat akan semakin cepat terputus. Apalagi, targetnya eliminasi TB 2030.
Skrining ini merupakan program active case finding. Pasien imun rendah seperti penderita diabetes, HIV, dan penyakit imunologis cukup rentan.
Baca Juga: Satu Anak Buah Kapal Asal Kecamatan Paciran Lamongan Meninggal di Masalembu
Mereka perlu dilakukan pemeriksaan dan pengobatan berkala. Yani menambahkan, skrining dimulai dari bayi hingga lanjut usia. Dari 2.000 pasien yang sedang diobati, rata - rata usianya dewasa.
Bagi mereka yang kontak erat seperti keluarga yang tinggal satu rumah, akan dilakukan pemeriksaan untuk memutus penularannya. Karena TB merupakan penyakit menular yang disebabkan mycobacterium tuberculosis.
Yani mengatakan, hingga sekarang belum ada kasus meninggal murni karena TB. Namun ada yang meninggal karena diagnosa TB dan penyakit penyerta. Jumlahnya, enam orang.
“Kita terus meningkatkan skrining melalui puskesmas dan kader untuk mencegah penularan,” jelasnya.
Gejala sakit seperti batuk berkepanjangan, penurunan berat badan yang tidak sesuai usia, dan keluar keringat berlebih pada malam hari tanpa aktivitas fisik perlu diwaspadai dan harus segera melakukan pemeriksaan. Bergejala bukan berarti positif TB. Jika memang positif, maka bisa dilakukan pengobatan. Sementara pengobatannya bisa dilakukan minimal enam bulan dan maksimal satu tahun, menyesuaikan kondisi pasien. (rka/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma