Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Perjalanan Ponpes Matholi’ul Anwar di Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan Didirikan Lebih dari Satu Abad

Ahmad Asif Alafi • Rabu, 4 Maret 2026 | 20:54 WIB

Jalan raya di depan Ponpes Matholi’ul Anwar tergenang air saat musim hujan.
Jalan raya di depan Ponpes Matholi’ul Anwar tergenang air saat musim hujan.

LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO - Genangan air masih mengepung gerbang Pondok Pesantren (Ponpes) Matholi’ul Anwar, Dusun Simo, Desa Sungelebak, Kecamatan Karanggeneng.

Luapan Bengawan jero memaksa jalan raya di depannya bersalin rupa menjadi kubangan. Namun, begitu melangkah ke dalam, suasana kontras langsung menyapa.

​Di balik pagar, denyut kehidupan pesantren terasa hidup. Barisan santri bersarung dengan peci putih tampak tenang menyusuri halaman. Kitab kuning didekap erat di dada.

Baca Juga: Cuaca Kurang Bersahabat, Pemain Persela Lamongan Diminta Jaga Kondisi Selama Jeda Kompetisi

Bagi warga di ujung barat Bengawan Jero, Ponpes Matholi’ul Anwar bukan sekadar tempat mengaji.

Melainkan episentrum sejarah pendidikan Islam yang telah mengakar sejak lebih dari satu abad silam.

Ketua Yayasan PP Matholi’ul Anwar, H. M. Syaifullah Abid menceritakan, naskah sejarah ponpes ini diteken kali pertama pada 18 Januari 1914 oleh Kiai Abdul Wahab.

Semuanya bermula dari pengajian sederhana di kediaman pribadi sang kiai. ​‘’Kiai Abdul Wahab diminta orang Dusun Simo Sungelebak sebagai kiai. Dulu daerah Simo jublang (sungai) semua, khususnya Simo Sungelebak itu adalah daerah rawa-rawa. Beliau (Kiai Wahab) mengajar di kampung-kampung,’’ kenang Abid.

Baca Juga: Jawa Pos Radar Lamongan Berbagi dengan Anak Binaan Yamuna

Pasca wafatnya Kiai Abdul Wahab pada 12 Maret 1925, estafet perjuangan dilanjutkan oleh para menantunya, yakni Kiai Abdullah, Kiai Rusman, dan Kiai Dja’far hingga tahun 1935.

Baru pada 17 Juli 1935, kepemimpinan beralih ke tangan putra pendiri, KH. Soefyan Abdul Wahab. ​Menariknya, saat itu Mbah Soefyan baru berusia 18 tahun.

Meski masih sangat muda dan aktif nyantri di berbagai daerah di Lamongan, kharismanya sebagai putra kiai sudah memancar kuat. Di tangan pemuda progresif inilah, wajah Matholi’ul Anwar berubah modern.

‘’Dipasrahkan Mbah Sofyan, ada gebrakan yang cukup progresif. Konon katanya dari santri beliau, Mbah Soefyan itu buat sekolah formal-formal itu mencontoh Mbah Ma’sum (kakak pertamanya). Konon, ada tujuh pondok pertama kali di Lamongan yang mendirikan sekolah formal, salah satunya Simo,’’ tutur Abid.

Perkembangan pesat ini, lanjut Abid, tak lepas dari laku spiritual dan kedermawanan luar biasa sang pendiri. Kiai Abdul Wahab dikenal sangat memperhatikan kesejahteraan warga. ‘’Kalau panen, hasilnya dibagikan rata satu desa,” tambahnya.

Berdiri di tepian Bengawan Njero, membuat pesantren yang didirikan lebih dari satu abad itu harus berkawan dengan banjir.

Abid mengingat betul bagaimana bangunan pondok harus berkali-kali ditinggikan hingga dua meter, demi menghindari terjangan air yang rutin bertamu.

​Keputusan mendirikan lembaga pendidikan formal pun lahir dari rasa prihatin atas sulitnya akses pendidikan di kawasan rawa tersebut.

‘’Beliau (Kiai Soefyan, red) membuat sekolah untuk meringankan orang-orang Bengawan Jero agar punya akses pendidikan yang lebih baik,’’ jelasnya.

Ada memori unik tentang santri musiman. Dulu, ketika bangunan pondok masih berupa panggung, banjir seringkali memaksa para santri pulang kampung.

Selain karena kondisi asrama yang terendam, mereka biasanya diminta orang tua untuk membantu di rumah. Namun begitu air surut, mereka akan kembali memenuhi bilik-bilik pondok.

​‘’Suka dukanya mondok di Bengawan Jero tepi barat begitu. Susahnya di situ, santrinya paling banyak dari Bengawan Jero,’’ ujarnya sembari tersenyum.

Baca Juga: Pengedar Pil Dobel L Asal Tuban Terancam 12 Tahun Penjara, Jalani Sidang di Pengadilan Negeri Lamongan

​Kini, dari rawa-rawa itu telah lahir ribuan lulusan. Total santri dan siswa di bawah naungan yayasan saat ini mencapai 3.400 orang.

​Memasuki Ramadan, ritme di Ponpes Matholi’ul Anwar kian kencang. Jika hari biasa sudah sibuk, di bulan suci ini kegiatannya dimaksimalkan.

​‘’Ramadan ngajinya pol-polan, ngaji Subuh sampai tengah malam,’’ kata Abid. ​

Dalam sehari, setidaknya ada enam sesi pengajian umum. Belum lagi pengajian kitab di masing-masing asrama.

Jika satu pengasuh membacakan dua kitab, maka dalam sebulan total ada sekitar 14 kitab yang dikhatamkan.

​‘’Rata-rata satu anak bisa mengkaji delapan kitab. Benar-benar maraton,” ungkapnya. (sip/ind)

 

 

Editor : Indra Gunawan