Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Banjir Bengawan Jero di Lamongan Meluas, 31 Ribu Hektare Tambak dan Sawah Terendam, Petambak Terpaksa Lakukan Panen Dini

Anjar Dwi Pradipta • Rabu, 14 Januari 2026 | 16:02 WIB
Terancam Merugi, Petambak terdampak Banjir Bengawan Jero Lamongan lakukan Panen Dini.
Terancam Merugi, Petambak terdampak Banjir Bengawan Jero Lamongan lakukan Panen Dini.

LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO – Luapan Bengawan Jero yang belum juga surut memaksa sejumlah petambak di Kabupaten Lamongan mengambil langkah darurat. Salah satunya dengan melakukan panen dini untuk menghindari kerugian yang lebih besar akibat air banjir yang terus meninggi dan meluas.

Sukadi Rohmad, salah satu petambak di Desa Blajo, Kecamatan Kalitengah, mengaku terpaksa memanen udang lebih awal meski usia tebar benih baru berjalan sekitar satu bulan. Keputusan itu diambil lantaran air dari luapan Bengawan Jero mulai meluas dan debitnya semakin tinggi.

“Airnya semakin besar. Ini terpaksa saya jaring (panen, red) meskipun baru satu bulan lebih tebar benih udang,” ujarnya kepada wartawan Radarlamongan.co, Selasa (13/1) siang.

Pengakuannya, akibat panen dini tersebut, ukuran udang yang dihasilkan jauh dari standar panen normal. Sebagian besar udang masih berukuran kecil.

"Kalau nggak banjir, jelas lebih besar dan hasilnya juga lebih bagus. Ini lho sampeyan lihat sendiri, kalau ukuran segini biasanya cuma cek seratus,” tambah Sukadi sambil menunjukkan udang vaname hasil panen di area tambaknya.

Apa yang dialami Sukadi mencerminkan dampak banjir Bengawan Jero yang kian menekan sektor pertanian dan perikanan di Lamongan. Ia berharap, meski dipanen dini dengan ukuran kecil, udang hasil tambaknya masih laku untuk dijual.

"Nggak laku ya saya konsumsi sendiri saja, ukurannya cuma segini nggak tau mau diolah jadi apa," katanya sambil tersenyum.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan, lebih dari 31 ribu hektare lahan sawah dan tambak di lima kecamatan terendam banjir sejak akhir 2025 hingga awal Januari 2026.

Lima kecamatan terdampak tersebut meliputi Kalitengah, Turi, Karangbinangun, Deket, dan Glagah. 

Kecamatan Kalitengah tercatat sebagai wilayah dengan dampak terparah, dengan luas sawah dan tambak terendam mencapai sekitar 14.931 hektare. Genangan tersebar di sejumlah desa, di antaranya Pucangro, Bojoasri, dan Jelakcatur.

Sementara itu, Kecamatan Deket mencatatkan sekitar 7.190 hektare lahan pertanian dan tambak terendam banjir. BPBD memperkirakan kerugian di wilayah ini mencapai Rp3,4 miliar, dengan desa-desa seperti Weduni, Sidomulyo, dan Laladan menjadi kawasan paling terdampak.

Di Kecamatan Turi, banjir merendam kurang lebih 6.270 hektare sawah dan tambak, terutama di Desa Putatkumpul dan Kepudibener yang selama ini dikenal sebagai sentra pertanian dan tambak rakyat.

Adapun Kecamatan Karangbinangun mencatatkan luasan lahan terendam sekitar 2.951 hektare, sedangkan Kecamatan Glagah menjadi wilayah dengan dampak paling kecil, yakni sekitar 137 hektare.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Lamongan, Na’im, menyampaikan bahwa lamanya genangan air berpotensi memicu gagal panen, kerusakan lahan, serta penurunan produktivitas tambak warga. Dampak tersebut dinilai cukup serius karena menyentuh langsung sumber penghidupan masyarakat.

“Pemkab Lamongan terus memantau kondisi di lapangan dan melakukan berbagai upaya penanganan. Salah satunya dengan mengoptimalkan pompa air di Kuro dan beberapa titik lainnya untuk mengurangi genangan,” ujar Na’im.

Hingga kini, BPBD bersama instansi terkait masih bersiaga menghadapi potensi meluasnya genangan, sembari berharap debit air Bengawan Jero segera turun agar aktivitas pertanian dan tambak warga bisa kembali normal. (jar)

Editor : Anjar D. Pradipta
#bpbd lamongan #banjir #Bengawan Jero #Panen Dini #lamongan