LAMONGAN, Radar Lamongan - Luas areal tanam tebu di Lamongan diprediksi meningkat dibandingkan tahun lalu.
Laporan sementara yang masuk sekitar 3.353 hektare (ha), yakni petani yang sudah mulai tanam sekitar 85 persen. Seperti diketahui, tahun lalu luas tanam tebu sekitar 3.898 ha. Baca Juga: Pemkab Lamongan Ciptakan Sejumlah Inovasi untuk Tingkatkan Produksi Pertanian
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Lamongan, Moch.Wahyudi optimistis, tanam tebu bakal lebih luas karena didukung harga tebu tahun lalu cukup menguntungkan petani.
Sehingga, semangat petani untuk tanam dipastikan tinggi, karena harga eceran tertinggi (HET) gula di wilayah Jawa Rp 16 ribu per kilogram (kg).
Yakni harga beli tebu tahun lalu cukup tinggi antara Rp 67.500 - Rp 87.500 per kuintal. Namun, harga tebu tetap menyesuaikan dengan kualitas rendemennya.
Praktis harga tersebut sangat membantu untuk menutup biaya operasional yang cukup tinggi. Menurut dia, rerata rendemen tahun lalu cenderung rendah yakni rendemen 7.
Namun harga beli masih tinggi, karena kualitas tebu masih bagus. Sehingga pabrik tetap membeli dengan harga tinggi.
Wilayah tanam tebu paling banyak di kecamatan selatan seperti Sambeng, Kembangbahu, Ngimbang dan sekitarnya.
Menurut dia, selain biaya sewa lahan untuk tanam yang cenderung tinggi, biaya buruh juga naik. Sehingga petani memerlukan biaya besar untuk mengolah pertaniannya.
Kalau HET gula tinggi, harga beli tebu juga naik, petani akan senang dan semangat untuk tanam, imbuhnya. (rka/ind)
Editor : Anjar D. Pradipta