Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

3.388 Pasangan Lepas Lajang Sepanjang Bulan Januari Hingga Mei 2026

Ahmad Asif Alafi • Rabu, 17 Juni 2026 | 11:49 WIB
Statistik Pernikahan bulan Januari hingga Mei 2026 di Kabupaten Lamongan. (Google Gemini)
Statistik Pernikahan bulan Januari hingga Mei 2026 di Kabupaten Lamongan. (Google Gemini)

radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Hasrat para single di Kabupaten Lamongan untuk melepas masa lajang terbilang masih sangat tinggi.

Berdasarkan data Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Lamongan, sepanjang Januari hingga Mei tahun ini, tercatat 3.388 peristiwa nikah yang tergelar di seluruh wilayah Kota Soto tersebut.

Dari wilayah yang ada, Kecamatan Babat nangkring di urutan teratas sebagai kecamatan paling "subur" pernikahan dengan sumbangan 271 peristiwa.

Baca Juga: 223 Motor Brong Kejaring, Sebulan Nginap di Mapolres Lamongan

Menempel ketat di posisi kedua adalah Kecamatan Paciran (261), disusul Kedungpring (203), dan Brondong (192).

Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag Lamongan, Imam Hambali, menyebut tren pernikahan di wilayah - wilayah gemuk tersebut relatif stabil dari tahun ke tahun tanpa ada lonjakan atau penurunan yang ekstrem.

"Kalau dilihat setiap tahun, jumlah pernikahan di masing - masing kecamatan hampir sama. Misalnya di Paciran, sekitar 700 pernikahan per tahun. Tahun berikutnya biasanya hanya naik atau turun sedikit,” ujarnya.

Baca Juga: Harga Cabai Rawit Naik, Cabai Merah Besar Turun di Pasar Sidoharjo Lamongan

Grafik pernikahan di Kabupaten Lamongan sangat dipengaruhi oleh kalender adat. Jumlah pendaftaran ijab kabul akan melonjak drastis saat memasuki bulan Dzulhijjah atau Bulan Besar dalam penanggalan Jawa yang diyakini sebagai bulan baik penuh berkah. 

"Ketika kemarin Dzulhijah, pernikahan sangat ramai. Di Paciran dan Brondong misalnya, dalam sehari bisa ada 12 sampai 15 pernikahan. Sebaliknya pada bulan Muharam jumlahnya sangat sedikit, bahkan bisa dihitung dengan jari," katanya.

Selain faktor bulan baik, luas wilayah dan kepadatan penduduk ikut memengaruhi. Semakin besar jumlah penduduk, biasanya semakin tinggi pula angka pernikahannya. Faktor lainnya, adanya kepercayaan malam - malam keramat tertentu yang dijadikan patokan warga lokal untuk menentukan hari bahagia.

"Di beberapa wilayah, ketika malam yang dianggap baik, jumlah pernikahan bisa sangat banyak. Karena masyarakat masih memegang adat dan kepercayaan yang berkembang,” jelasnya.

Imam mengimbau masyarakat tidak ragu menikah selama seluruh persyaratan telah dipenuhi. Saat ini banyak calon pengantin memilih melaksanakan akad di Kantor Urusan Agama (KUA) karena tidak dipungut biaya.

"Kalau menikah di kantor KUA tidak ada biaya sama sekali atau nol rupiah. Sedangkan jika meminta penghulu datang ke rumah, dikenakan biaya Rp 600 ribu yang disetorkan melalui bank atau kantor pos sebagai penerimaan negara bukan pajak (PNBP),” terangnya.

Imam juga berharap setiap calon pengantin mengikuti program bimbingan perkawinan calon pengantin yang diselenggarakan di KUA masing-masing. Program tersebut bertujuan membekali pasangan sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.

"Di sana calon pengantin diberikan berbagai materi, mulai manajemen waktu, pengelolaan keuangan keluarga," katanya. (sip/yan) 

Editor : Arya Nata Kesuma
#kemenag lamongan #kabupaten lamongan #pernikahan