LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO - Penyaluran bantuan program sembako periode Januari hingga Maret 2026 di Kabupaten Lamongan mulai terealisasi. Meski begitu, ditemukan ribuan penerima gagal salur.
Kepala Dinas Sosial Lamongan Galih Yanuar Medi Pratama menjelaskan bahwa secara umum penyaluran bantuan telah berjalan.
Baca Juga: Perkara Perdata Nany Widjaja di Pengadilan Negeri Surabaya Masih Berlanjut
Namun, diakuinya, terdapat beberapa kategori dalam proses distribusi tersebut, mulai dari yang sudah tersalur, gagal salur, hingga masih dalam tahap proses.
“Untuk program sembako Januari sampai Maret memang sudah ada yang tersalur, ada yang gagal salur, dan ada yang masih proses,” ujarnya.
Galih memaparkan, total pagu penerima program tersebut mencapai 99.891 keluarga penerima manfaat (KPM).
Dari jumlah itu, sebanyak 92.567 KPM telah tersalur atau menerima bantuan. Sementara itu, 3.915 KPM tercatat gagal salur.
Baca Juga: Belum Lolos Jalur SNBP? Berikut Strategi Jitu SNBT Demi Kursi PTN Favorit
Menurut dia, kegagalan penyaluran umumnya disebabkan ketidaksesuaian data antara nomor induk kependudukan (NIK) dan nama penerima di sistem perbankan.
“Biasanya yang gagal salur itu karena NIK dengan nama di bank berbeda dengan data di sistem,” terangnya.
Dia menuturkan, program sembako merupakan kewenangan pemerintah pusat.
Sementara pemerintah daerah hanya berperan sebagai fasilitator. “Anggarannya langsung dari pusat. Kabupaten hanya memfasilitasi dan memantau melalui aplikasi,” tambahnya.
Untuk periode ini, bantuan yang diterima setiap KPM sebesar Rp600 ribu. Nominal tersebut merupakan akumulasi bantuan tiga bulan, masing-masing Rp 200 ribu per bulan yang dicairkan sekaligus pada Bulan Maret.
Galih berharap bantuan tersebut dapat membantu meringankan beban masyarakat, khususnya dalam memenuhi kebutuhan pokok.
Baca Juga: Jumlah Pengguna Kontrasepsi KB Metode Operasi di Lamongan Didominasi Perempuan, Berikut Alasannya
Dia juga mengingatkan agar bantuan dimanfaatkan sesuai arahan pemerintah pusat.
“Harapannya bisa membantu dan meringankan beban masyarakat. Digunakan untuk membeli kebutuhan seperti protein nabati, karbohidrat, hewani, dan vitamin,” pungkasnya. (sip/ind)
Editor : Indra Gunawan