radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Panen komoditas tebu di Lamongan mundur karena intensitas hujan yang tinggi.
Hingga bulan ini, data Dinas Ketahanan Pangan Pertanian (KPP) Lamongan, dari total luas tanam 3.700 hektare, panen tebu masih kurang 10 - 15 persen.
Sekretaris Dinas KPP Lamongan, Bakrudin, menjelaskan, waktu panen diprediksi tuntas akhir bulan ini.
Harga tebu saat ini masih relatif stabil, Rp 87 ribu per kuintal untuk rendemen tujuh.
“Kami berharap seluruh tebu petani bisa dibeli dengan harga yang sesuai agar petani semangat tanam lagi,” harapnya.
Menurut dia, kondisi cuaca saat ini berdampak pada beberapa komoditi perkebunan.
Selain panen tebu yang mundur, tembakau juga terdampak.
Sebagian petani harus tanam dua kali baru bisa hidup.
Bakrudin menuturkan, perubahan cuaca sangat menguntungkan bagi petani padi karena bisa tanam dua hingga tiga kali dalam satu tahun.
Namun, dia bersyukur petani tebu maupun tembakau masih panen dan harganya juga.
“Kalau harga memang tidak setinggi tahun lalu untuk tebu dan tembakau, minimal petani masih untung,” ujarnya.
Bakrudin menjelaskan, setiap tahun petani tebu hanya panen satu kali dengan periode tanam 9 - 10 bulan.
Kemudian yang rawat ratoon atau tanaman lama, biasanya 5 - 6 enam bulan bisa panen. (rka/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma