radarlamongan.co – jawaposradarlamongan.com - Warga Kabupaten Lamongan yang sering bepergian menuju Kota Surabaya menggunakan jalur alternatif wilayah selatan bakal bisa bernapas lega. Jalur penghubung utama di kawasan Menganti yang selama ini kerap menjadi titik penumpukan kendaraan dan kemacetan menahun, dipastikan segera diperlebar menjadi empat lajur.
Kepastian ini diperoleh setelah Pemerintah Kabupaten Gresik terus mematangkan megaproyek pelebaran jalan Menganti - Lakarsantri yang berbatasan langsung dengan kawasan Surabaya. Langkah krusial dimulai dengan digelarnya agenda Sosialisasi dan Konsultasi Publik Pengadaan Tanah di Kantor Desa Menganti, Kamis (16/7). Baca Juga: Pemasangan Girder Jembatan Jalan Nasional di Desa Kesambi, Kecamatan Pucuk, Lamongan Segera Dimulai
Bagi masyarakat Kabupaten Lamongan—khususnya dari wilayah selatan seperti Mantup, Sambeng, Ngimbang, dan Tikung, jalur Menganti merupakan salah satu rute andalan non-tol menuju Surabaya demi menghindari kepadatan di jalan nasional jalur utama pantura atau Duduksampeyan. Selama ini, penyempitan jalur menjadi dua lajur di kawasan Menganti kerap kali menghambat waktu perjalanan.
Hadir dalam sosialisasi tersebut, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Gresik Dhiannita Tri Astuti, perwakilan Kantor Pertanahan (BPN) Gresik, Kejaksaan Negeri Gresik, DPRD Gresik, jajaran Forkopimcam, Pemdes Menganti, serta ratusan warga pemilik lahan terdampak. Baca Juga: Jembatan Kesambi Kecamatan Pucuk Lamongan Bersiap Memasuki Tahapan Pengecoran Lantai Jembatan
Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, mengatakan bahwa Kecamatan Menganti kini telah bermutasi menjadi kawasan penyangga yang sangat strategis karena berbatasan langsung dengan Surabaya Barat. Pesatnya perkembangan ini wajib diimbangi dengan infrastruktur jalan yang representatif agar mobilitas warga lancar sekaligus memantik pertumbuhan ekonomi baru.
“Menganti lima tahun lalu dengan sekarang sudah sangat berbeda. Wilayah ini menempel langsung dengan Surabaya bagian barat yang perkembangannya terus mengarah ke sini. Karena itu, Pemkab Gresik ingin mengintegrasikan konektivitas wilayah selatan agar Menganti benar-benar siap menjadi kota satelit baru di Kabupaten Gresik,” ujar Bupati Yani.
“Dulu saya sempat ragu untuk memulai. Tetapi kalau tidak dipaksa mulai, kapan lagi? Setiap hujan banjir lalu macet, begitu juga setiap pagi dan sore saat jam kerja. Akhirnya kami cicil bertahap dari Setro. Alhamdulillah, respons dan dukungan warga luar biasa. Modal sosial itulah yang membuat kami optimis melanjutkan hingga tahap ini,” imbuhnya. Baca Juga: Terdampak Harga Bahan Material Naik, Proyek Jalan Lingkungan di Kabupaten Lamongan Molor
Kepala DPUTR Kabupaten Gresik, Dhiannita Tri Astuti, menjelaskan, pembayaran uang ganti kerugian (UGK) nantinya ditransfer langsung ke rekening masing - masing pemilik lahan tanpa perantara guna mencegah potensi penyelewengan. Ada lima desa yang terdampak yang mendapatkan sosialisasi. Yakni, Desa Hulaan, Setro, Laban, Menganti, dan Desa Sidowungu.
"Khusus di Desa Menganti, panjang ruas jalan yang akan dilebarkan mencapai 580 meter termasuk area krusial di Simpang Empat Menganti. Identifikasi awal mencatat ada 119 bidang tanah warga yang berpotensi terdampak," jelas Dhiannita.
Kawasan Simpang Empat Menganti juga akan disulap menjadi koridor perkotaan modern yang dilengkapi trotoar ramah pejalan kaki di kedua sisi, sistem drainase tertutup terintegrasi, median jalan, serta penataan kabel udara ke dalam utilitas bawah tanah. (*)
Editor : Arya Nata KesumaSumber : Radar Gresik