Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Sisi Lain Gunung Kawi yang Hidup, Festival Satu Suro

Arya Nata Kesuma • Senin, 25 Mei 2026 | 21:12 WIB
Festival 1 Suro di Gunung Kawi. (instagram radar malang)
Festival 1 Suro di Gunung Kawi. (instagram radar malang)

radarlamongan.co – jawaposradarlamongan – Menyebut nama Gunung Kawi, sebagian orang sering mengaitkan dengan ritual pencarian pesugihan. Padahal, keberadaan Gunung di Kecamatan Wonosari, Malang itu tak melulu soal cerita mistis dan ritual pencarian pesugihan tersebut. Gunung Kawi membuktikan bahwa gerak nadi kebudayaan mereka jauh lebih hidup dari sekadar rumor. 

Buktinya, tahun lalu (2025) digelar Festival Satu Suro di Pesarean Gunung Kawi, di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari. Kegiatan itu dilaksanakan (27/6) setelah sempat vakum selama empat tahun akibat kendala ekonomi.

Warga berbondong-bondong menuju Terminal Wonosari setelah salat Jumat. Mereka menantikan arak - arakan sengkala atau ogoh-ogoh yang sudah disiapkan sejak beberapa hari sebelumnya. Ada tiga sengkala yang ditampilkan. Salah satunya berbentuk butho memegang pentungan bergerigi.

Satu lagi juga bentuknya menyerupai butho, namun lebih kecil. Dan yang paling menyita perhatian, sengkala berukuran raksasa dengan bentuk setan bermahkota duduk memangku anak kecil bermuka seram.

”Sengkala itu merupakan gambaran negatif manusia, di puncak acara akan dibakar sebagai tanda penghilangan hal-hal negatif di masyarakat,” kata Ketua Panitia Acara waktu itu, Indratno Subur Purwo.

Semua sengkala itu juga sudah diruwat semalam sebelum pelaksanaan acara. Saat acara, sengkala-sengkala itu diarak warga keliling sekitar Terminal, lalu naik ke pesarean dan berakhir di terminal lagi untuk dibakar. Festival Satu Suro atau Grebeg Suro itu sudah menjadi tradisi di masyarakat Gunung Kawi, dan diadakan setiap tahun.

Diawali dengan kirab pusaka, jamasan, pentas seni, dan wayang kulit. Indratno menyebut, Festival itu adalah pelaksanaan secara besar-besaran pertama kali sejak vakum pada 2020. ‘’Waktu itu kemampuan ekonomi warga juga tidak dimungkinkan untuk pelaksanaan. Tapi tahun 2024 sudah dicoba digelar secara kecil-kecilan,” sebut dia.

Kegiatan itu diinisiasi Pokmas Pelasty (Perkumpulan Pelestari Adat Budaya) Gunung Kawi.

”Kalau tahun-tahun sebelumnya dari Pemdes Wonosari,” tambah Indratno. (*)

Editor : Arya Nata Kesuma
#festival satu suro #grebeg suro #cerita mistis #pesugihan #gunung kawi