Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Gelisah Nutrisi Soft Cookies, Tim SMAN 2 Lamongan Jadikan Bahan Lokal Bersaing di WYIE Malaysia 2026 dan Membawa Pulang Medali Emas

Rika Ratmawati • Sabtu, 30 Mei 2026 | 20:54 WIB
PRESTASI DI NEGERI JIRAN: Siswa SMAN 2 Lamongan yang diminta menggelar pameran di WYIE Malaysia 2026. (Istimewa/Radar Lamongan)
PRESTASI DI NEGERI JIRAN: Siswa SMAN 2 Lamongan yang diminta menggelar pameran di WYIE Malaysia 2026. (Istimewa/Radar Lamongan)

radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Kuala Lumpur menjadi saksi bagaimana lidah para juri internasional tak berkutik di hadapan cita rasa lokal khas Lamongan. Di balik riuh pameran inovasi berskala besar itu, enam pelajar SMAN 2 Lamongan sukses mengonversi kekayaan Lamongan dan berbuah medali emas.

 

RIKA RATMAWATI, Lamongan 

 

Hari itu, raut semringah tak bisa disembunyikan dari wajah Amirah Daris Putri, Chika Ariesta Nabilah, Nisrofil Imama, Feni Nur Aulia Ramadhani, M. Davi Dwi Kusuma, dan Siti Rahma Nadya Novitasari. Enam remaja kelas XI tersebut membawa pulang medali emas dari ajang World Youth Inventors Exhibition (WYIE) 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia, 18 - 20 Mei.

Di ajang yang berbarengan dengan International Invention, Innovation & Technology Exhibition (ITEX) itu, mereka harus adu gagasan dengan inovator muda dari berbagai belahan dunia. Mulai dari Arab Saudi, Hongkong, Thailand, hingga tuan rumah Malaysia. 

Baca Juga: Harga Bumbu — Sayur di Pasar Tradisional Lamongan Mengalami Kenaikan

SMAN 2 Lamongan, yang mendelegasikan satu tim di bidang agrikultur, menantang dominasi global lewat sebuah produk unik: Soraya Cookies. Yakni, inovasi pangan sehat berbasis sorgum, siwalan, dan kelapa sebagai diversifikasi pangan lokal. 

Rahma, salah satu anggota tim, menuturkan, soraya tim sudah berproses sejak Desember. Mereka memutuskan ambil bagian karena kesempatan tidak datang dua kali. Sebulan kemudian, mereka mengumpulkan persyaratan pertama, yakni abstrak, gambar, dan inovasi yang dibawakan. 

Ternyata, proyek mereka dinyatakan lolos pada Maret. Uji laboratorium untuk memperkuat validitas produk dari sisi ilmiah serta mempersiapkan kebutuhan exhibition secara intens dilakukan April. “Alhamdulillah tanggapan juri positif dan di luar ekspektasi karena keunikan dan cita rasa dari produk yang dipresentasikan,” tuturnya.

Baca Juga: Momen Libur Hari Raya Idul Adha, Penumpang di Stasiun Lamongan Capai 4.371

Lahirnya Soraya Cookies berangkat dari sebuah kegelisahan komunal remaja masa kini. Tren soft cookies memang sedang digandrungi semua kalangan. Rasanya manis, teksturnya memanjakan lidah. Sayang, jika dikunyah dalam jumlah banyak, kandungan nutrisinya kerap dicap buruk. Dari sana muncul jargon penolak rasa bersalah: eat more but less guilty.

Di Lamongan, ada sorgum, siwalan, dan kelapa yang kerap dipandang sebelah mata. Mengapa tidak menyatukan ketiganya dalam satu gigitan sehat? Maka diraciklah formula tersebut. Tepung terigu yang biasa menjadi bahan utama diganti dengan tepung sorgum. Isiannya memanfaatkan selai srikaya dan kelapa parut. Sementara di bagian atas, potongan siwalan disematkan demi mengejar sensasi tekstur chewy yang pas. 

Secara proses, pembuatannya memang mirip kue kering biasa. Namun, karena memanfaatkan bahan alami, maka prosesnya memakan waktu lebih lama. Terutama dalam menjinakkan karakteristik tepung sorgum agar bisa selembut cookies modern.

Kerja sama tim menjadi kunci. Rahma memegang kendali dapur untuk produksi dan pengembangan resep. Feni bertindak sebagai kalkulator tim yang menghitung presisi kelayakan ekonomi. Sementara Ima mengawal ketat aspek gizi dan kesehatan. Urusan target pasar dan kemasan diserahkan kepada Ayik, sedangkan Davi menjadi otak kreatif di balik desain visual Soraya Cookies. Terakhir, Caca menjadi sosok adaptif yang siap menambal segala lini tugas yang kosong. Semuanya bergerak harmonis di bawah supervisi sang pembina, Pak Gemilang.

Jalan menuju prestasi tak selalu mulus. Hambatan sempat membuat mereka khawatir. Mulai dari urusan membagi waktu belajar, adonan yang berkali-kali gagal, kerumitan merinci poin presentasi berbahasa asing, hingga manajemen keuangan tim. Namun, tim akhirnya menemukan solusi terbaik. “Semoga ada kesempatan ingin mengembangkan penelitian ini sebagai bentuk aksi diversifikasi pangan dari anak muda,” terangnya. 

Pembina Tim, Gemilang, mengatakan, kompetisi ini tidak hanya mengirim karya. Juga harus mempresentasikan inovasi mereka secara langsung di hadapan juri internasional. Setelah lolos abstrak, setiap tim akan mendapatkan booth untuk memamerkan produknya. Mereka diminta menjelaskan detail penelitiannya. “Kompetisinya sangat menarik karena setiap perwakilan memamerkan banyak bidang lingkungan, teknologi, pendidikan dan masih banyak lagi,” terangnya. (*/yan)

 

Editor : Arya Nata Kesuma
#agrikultur #pangan lokal #soft cookies #inovasi #sman 2 lamongan