LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO - Ketika melihat ada kendaraan terhenti di perlintasan kereta, banyak orang berharap masinis bisa langsung menginjak rem mendadak layaknya sopir mobil di jalan raya.
Namun, anggapan tersebut kurang tepat karena kereta api memiliki aturan fisika yang sangat berbeda.
Proses pengereman tidak bisa dilakukan dengan instan, bahkan saat situasi sudah sangat mendesak sekalipun.
Jangan heran jika kereta tetap meluncur beberapa ratus meter setelah rem ditekan.
Tubuh kereta yang berbobot ratusan ton membutuhkan energi luar biasa besar untuk menghentikannya.
Semakin kencang laju kereta, semakin panjang pula jarak yang dibutuhkan untuk melakukan pengereman.
Baca Juga: Pengurus Dekopinda Lamongan Dikukuhkan, Siap Perkuat Peran Koperasi
Studi dari Railway Engineering Science yang dirilis tahun 2023 membuktikan bahwa jarak pengereman tetap panjang meski kereta sudah melambat.
Energi yang harus dibuang sangat besar, sehingga sistem perkeretaapian wajib menyediakan ruang dan waktu yang cukup sebelum rangkaian benar-benar berhenti.
Faktor berat bukan satu-satunya penghalang. Gesekan antara roda dan rel juga berperan besar.
Berbeda dengan ban mobil yang bergesekan langsung dengan aspal, roda dan rel sama-sama terbuat dari baja.
Pertemuan kedua permukaan keras itu hanya menyentuh di area yang sangat kecil.
Beberapa sumber menyebut bahwa gaya gesek pada sistem roda-rel sangat rentan berubah-ubah.
Kondisi cuaca seperti hujan atau kelembapan tinggi, sampai kotoran yang menempel di permukaan rel, bisa menurunkan gesekan secara drastis.
Kalau gesekannya berkurang, kereta otomatis semakin sulit berhenti. Itulah kenapa sistem pengereman dirancang harus sangat ekstra hati-hati dalam mempertimbangkan kondisi jalur.
Karena keterbatasan gesekan itulah, sistem rem kereta dirancang bekerja secara bertahap.
Pengereman mendadak justru berbahaya karena bisa membuat rangkaian kereta tergelincir akibat dorongan dari gerbong belakang yang mendorong ke depan.
Meski sedang menghadapi situasi darurat, masinis tetap harus memastikan pengereman berjalan halus agar kereta tidak keluar jalur.
Meski sistem operasional kereta sudah diatur sedemikian rupa, risiko kecelakaan di perlintasan tetap bisa terjadi.
Tekanan psikologis masinis, kondisi lingkungan yang licin, hingga kesalahan pengendara yang memaksa menyeberang menjadi kombinasi faktor yang tak bisa diabaikan.
Oleh karena itu, sebagai pengguna jalan harus memahami keterbatasan fisik kereta ini.
Jangan pernah mengandalkan asumsi bahwa kereta bisa berhenti tepat di depan hidung mobil kalian.
Saat palang pintu mulai berbunyi, satu-satunya pilihan aman adalah menepi dan menunggu hingga kereta benar-benar lewat. (mgg/ind)
Editor : Indra Gunawan