LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO - Deretan bonsai beragam jenis menghiasi halaman rumah Bangkit Duwiyan Budiharjo di Desa/ Kecamatan Maduran. Puluhan tanaman bonsai tertata rapi dengan berbagai ukuran.
Namun yang paling mencuri perhatian adalah bonsai-bonsai mini berukuran mungil atau yang dikenal sebagai jenis shito dan mame.
Baca Juga: Tahun Baru Hijriah Sebagai Momentum Menuju Kejayaan Lamongan
Shito dan mame berasal dari bahasa Jepang, yakni shito artinya jari kelingking dan mame kacang.
Bonsai shito berukuran kurang dari 10 centimeter atau bisa digenggam ujung jari. Sedangkan bonsai mame berukuran 10-15 centimeter.
‘’Suka tanaman bonsai sejak dulu, tapi kalau terjun langsung di bidang bonsai sudah sekitar 6 sampai 7 tahun belakangan ini,” ujar Bangkit.
Bangkit mengungkapkan, sebenarnya lebih menyukai bonsai berukuran jumbo atau XL.
‘’Tapi alasan banyaknya bonsai saya yang mini karena lebih cepat jadinya dan tidak memakan banyak tempat,’’ tutur pria berusia 27 tahun ini.
Baca Juga: Mengganggu Kantibmas, Polres Lamongan Kembali Amankan 85 Motor Knalpot Brong
Koleksi bonsainya cukup beragam. Mulai sancang, serut, bugenvil, kimeng, iprik pucuk merah, kawista batu, ileng-ileng, petai cina, beringin dolar, hingga waru variegata.
Dari berbagai jenis tersebut, sancang menjadi tanaman favoritnya. Untuk ukuran bonsai shito dan mame juga banyak jenis sancang.
Menurut Bangkit, sancang memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya ideal dijadikan bonsai mini.
‘’Karena untuk jenis sancang memiliki daun mikro (bisa sangat kecil), dan untuk mata tunasnya itu seimbang kanan kiri, dan memiliki ruas yang rapat, itu adalah poin plus untuk jenis sancang,” katanya.
Baca Juga: Komisi C DPRD Lamongan: Masifnya Perbaikan Jalan harus Didukung Penerangan yang Memadai
Bagi Bangkit, daya tarik utama bonsai bukan sekadar hasil akhirnya. Proses panjang membentuk tanaman mulai dari akar hingga mahkota, menjadi kepuasan tersendiri yang tidak bisa didapatkan secara instan.
Dia menjelaskan, dalam dunia bonsai terdapat beberapa kategori ukuran. Untuk ukuran paling kecil disebut shito dengan ukuran sekitar 1 hingga 15 sentimeter. Sementara ukuran sedikit lebih besar dikenal dengan sebutan mame.
‘’Kalau ukurannya lebih besar lagi, nanti berbeda lagi nama penyebutannya,” ungkapnya.
Dalam perawatan, setiap jenis tanaman memiliki karakter berbeda. Karena itu, pemilik bonsai harus memahami asal-usul dan kebutuhan tanaman sebelum mulai membudidayakannya.
Menurutnya, tantangan terbesar dalam merawat bonsai adalah melatih kesabaran dan ketelatenan.
Kesalahan kecil dalam penanganan dapat berakibat fatal hingga menyebabkan tanaman mati.
‘’Bagian tersulit itu kesabaran dan menyuburkan tanaman. Karena sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan bonsai yang sedang dibentuk,” tuturnya.
Waktu yang dibutuhkan untuk membentuk bonsai juga bervariasi. Bonsai shito umumnya bisa selesai dalam waktu kurang dari satu tahun.
Sedangkan bonsai mame membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun, untuk mendapatkan kerapatan cabang dan ranting yang diinginkan. Semakin besar ukuran bonsai, semakin panjang pula proses pembentukannya.
Selain perawatan rutin, Bangkit juga memperhatikan media tanam dan pemupukan.
Dia mengganti media tanam setiap enam hingga tujuh bulan sekali, agar pertumbuhan tanaman tetap optimal.
‘’Kalau ingin cepat jadi, media tanam, pupuk, dan tempat yang luas juga sangat memengaruhi pertumbuhan bonsai,” jelasnya.
Kedepan, Bangkit berharap koleksi bonsainya tetap tumbuh subur, terhindar dari serangan penyakit, serta menghasilkan lebih banyak bibit baru yang bisa dikembangkan menjadi bonsai berkualitas.
‘’Semoga bonsai yang saya rawat selalu sehat, subur, dan semakin banyak keturunannya,” pungkasnya. (sip/ind)
Editor : Indra Gunawan