LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO – Sebuah ruangan berukuran sekitar 4 x 8 meter di Desa Plangwot, Kecamatan Laren, tampak dipenuhi beragam lukisan.
Mulai dari karya bergaya naturalis, ekspresionisme, hingga kaligrafi yang tertata rapi di dinding.
Di ruangan sederhana itulah Choirul Ulum, seorang guru, menekuni hobinya melukis dengan penuh ketelatenan.
Baca Juga: Melawat ke Markas Kendal Tornado FC, Persela Lamongan Berambisi Amankan Posisi Lima Besar
Choirul Ulum mulai mendalami seni lukis sejak duduk di bangku SMA. Ketertarikannya muncul dari pertemuannya dengan para pelukis, yang kemudian memotivasinya untuk terus belajar.
‘’Saya menekuni seni sejak SMA. Bahkan masih punya karya kenang-kenangan dari masa itu. Sambil sekolah, saya belajar melukis dan bertemu pelukis untuk menimba ilmu,” ujarnya.
Di tengah kesibukannya sebagai pengajar, Ulum tetap menyempatkan diri berkarya.
Baca Juga: Lima Restoran Legendaris di Makkah dan Madinah Ini Bisa Jadi Pilihan Saat Haji dan Umrah
Dia kerap membuat lukisan cat akrilik di atas kanvas hingga membuat spanduk, termasuk spanduk warung pecel lele.
Selain itu, dia juga aktif mengikuti kegiatan seni tahunan untuk bertemu dan melukis bersama rekan sesama seniman.
‘’Di sela-sela mengajar, saya tetap melukis di atas kanvas. Kadang juga membuat spanduk,” imbuhnya.
Dalam berkarya, Ulum menggunakan cat akrilik di atas kanvas. Menurutnya, kualitas bahan sangat berpengaruh terhadap hasil akhir lukisan.
‘’Kalau bahannya bagus, hasilnya juga bagus,” katanya.
Terkait gaya, Ulum mengaku mempelajari berbagai aliran. Namun, dia lebih banyak berkarya dengan gaya naturalis dan ekspresionisme.
Aliran naturalis, jelasnya, menampilkan objek sesuai bentuk aslinya, seperti pemandangan alam.
‘’Kalau bicara gaya atau aliran, lukisan saya banyak yang ekspresionisme,” ucapnya.
Baca Juga: Lima Restoran Legendaris di Makkah dan Madinah Ini Bisa Jadi Pilihan Saat Haji dan Umrah
Dia juga mengakui tantangan yang dihadapi seniman lukis saat ini semakin kompleks.
Perkembangan teknologi membuat karya visual digital kerap menyerupai lukisan tangan.
‘’Sekarang agak sulit membedakan karya seni lukis dengan karya digital atau foto yang mirip lukisan. Tapi tetap berbeda antara karya tangan asli dengan yang dihasilkan teknologi,” jelasnya.
Untuk menyelesaikan satu lukisan, Ulum membutuhkan waktu bervariasi, mulai satu minggu hingga sepuluh hari, tergantung tingkat kerumitan objek.
Kedepan, dia ingin mencoba teknik pallet, yakni melukis menggunakan pisau kecil untuk menghasilkan sapuan warna yang lebih tegas dan artistik.
Adapun tema yang sering dia angkat dalam karya-karyanya adalah kehidupan alam, seperti aktivitas masyarakat yang sedang menjala ikan.
Tak hanya melukis di atas kanvas, keseharian Choirul Ulum justru lebih akrab dengan kuas dan kain spanduk.
Dia dikenal sebagai pelukis spanduk warung pecel lele yang masih mempertahankan teknik manual di tengah maraknya metode cetak digital.
Ulum mengungkapkan, setiap pesanan biasanya datang dengan permintaan khusus dari konsumen.
‘’Kadang ada yang minta tulisan besar di atas, lalu huruf kecil di bawah. Ada juga yang meminta tambahan gambar seperti lele, ayam, bawal atau bebek. Semua disesuaikan dengan permintaan pelanggan,” ujarnya.
Baca Juga: Pengedar Sabu yang Terrtangkap di Mantup Dituntut Lima Tahun Penjara
Media yang digunakan umumnya berupa kain. Untuk ukuran, pelanggan kerap memesan dalam satu set lengkap sesuai kebutuhan warung.
Dalam proses pengerjaan, Ulum membutuhkan waktu cukup lama. Satu spanduk berukuran lebar bisa diselesaikan hingga lima hari.
Menurutnya, cuaca menjadi salah satu kendala utama. Saat hujan, proses pengeringan cat terhambat.
Dia bahkan pernah mencoba menggunakan pengering buatan, namun hasilnya kurang maksimal.
‘’Kalau dikeringkan alami hasilnya lebih bagus,” katanya.
Selain itu, kondisi cuaca juga memengaruhi kualitas pewarnaan. Dia menjelaskan, saat membuat gradasi warna, cuaca yang tidak terlalu panas justru lebih ideal.
‘’Kalau terlalu panas, cat cepat kering sebelum selesai. Jadi hasilnya kurang halus,” jelasnya.
Dalam berkarya, Choirul mengaku mengalir mengikuti perasaan. Baginya, melukis bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga cara menyampaikan pesan dari hati.
‘’Kalau ide sudah terwujud, rasanya lega,” ucapnya.
Baca Juga: LAYANAN ARPUSDA Tren Pengunjung Meningkat Tiga Bulan Pertama
Di tengah perkembangan teknologi printing, Choirul tetap yakin karya lukis manual masih memiliki keunggulan.
Cat yang meresap ke dalam kain dinilai lebih kuat dan tahan lama dibandingkan hasil cetakan.
‘’Kalau printing itu hanya menempel di permukaan. Kalau lukisan, catnya meresap, jadi lebih awet,” tuturnya, menirukan pengakuan para pedagang pecel lele yang menjadi pelanggannya. (sip/ind)
Editor : Indra Gunawan