LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO – Kesan mewah langsung tertangkap saat menapaki lantai dua kandang Restu Ilahi di kawasan Blimbing, Paciran.
Di sana, deretan unggas tak biasa berjajar rapi. Tubuhnya tegap, namun ada satu bagian yang mencuri perhatian, ekor yang menjuntai panjang, kaku, dan elegan.
Itulah ayam ekor lidi. Bagi Asfali, sang pemilik kandang, dan rekan peternaknya, Ekfan Effendy, ayam ini bukan sekadar unggas peliharaan. Mereka adalah karya seni hidup yang lahir dari ketelatenan bertahun-tahun.
‘’Secara umum hampir sama dengan ayam biasa. Tapi kelebihannya ada di ekor dan postur tubuh. Bentuknya lebih proporsional, terlihat gagah, dan yang paling menonjol tentu ekornya yang panjang, lebat, serta kaku,” ujar Ekfan Effendy.
Laki-laki 43 tahun ini bercerita, kecintaannya pada ekor lidi bermula dari hobi memelihara ayam.
Namun, dia enggan terjun ke dunia ayam aduan yang kerap dicap negatif oleh masyarakat. Pilihan pun jatuh pada ayam hias.
‘’Faktor utama dari visualnya yang membuat saya tertarik, karena masih suka ayam, jadi kita larinya ke ayam hias ekor lidi, lebih populer,” terangnya.
Menariknya, merawat sang primadona ini sebenarnya tak serumit yang dibayangkan. Ekfan mengaku pakannya cukup sederhana.
‘’Pakan kita mix, pakan pabrikan dicampur jagung dan beras merah. Perawatannya hampir sama seperti ayam lain,” tambahnya.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah serangan penyakit musiman yang kerap muncul akibat perubahan cuaca. Upaya pencegahan dilakukan dengan menjaga kebersihan kandang dan penyemprotan disinfektan secara rutin.
‘’Biasanya ada virus tahunan. Cara mengatasinya lebih ke pencegahan, seperti semprot disinfektan atau obat, baik tradisional maupun pabrikan,” ungkapnya.
Ayam ekor lidi juga kerap dilombakan dalam kontes keindahan. Penilaian difokuskan pada aspek visual, mulai dari bentuk kepala, postur tubuh, warna, hingga kualitas ekor. Ekor menjadi poin utama dalam penilaian.
‘’Semakin panjang, lebat, dan kaku ekornya, semakin bagus nilainya,” jelas Ekfan.
Untuk menjaga kualitas ekor, perawatan khusus dilakukan. Mulai dari pemberian vitamin dan tambahan protein saat masa pertumbuhan, hingga menjaga kebersihan agar terhindar dari kutu dan kotoran.
“Perawatan ekor itu penting. Harus bersih, sehat, dan dirawat dengan vitamin supaya pertumbuhannya maksimal,” tambahnya.
Perbedaan antara ayam jantan dan betina juga cukup mencolok. Pada jantan, ciri utama terletak pada ekor yang panjang, kaku, dan lebat.
Sementara pada betina, bentuk ekor cenderung lebih simetris dan mengarah ke bawah mengikuti garis punggung.
“Kalau jantan jelas terlihat. Kalau betina, pemula memang agak sulit membedakan. Tapi yang bagus itu ekornya tetap panjang dan lebat, serta tidak terlalu mengangkat ke atas, ekornya simetris sejajar arah punggung ke bawah,” terang Effendy.
Sementara itu, pemilik kandang Restu Ilahi, Asfali menambahkan, dalam kontes ayam ekor lidi terdapat sejumlah kriteria penilaian.
Diantaranya kepala, postur tubuh, warna, kondisi kesehatan, serta ekor sebagai aspek utama.
“Untuk standar kontes, panjang ekor minimal 45 sentimeter. Harus lebat, kaku, dan rapi. Selain itu, serta warna ayam yang bagus harus memiliki keselarasan baik warna dasar ataupun rawis dan ayam harus dalam kondisi sehat, ada pengecekan kesehatan menjelang kontes,” jelasnya.
Ia mengakui, kendala dalam beternak ayam ekor lidi tidak jauh berbeda dengan unggas lain, yakni ancaman penyakit akibat perubahan iklim. Namun, hal tersebut dapat diminimalkan dengan perawatan intensif.
Lebih jauh, Asfali menilai ajang kontes memiliki dampak positif bagi para peternak.
Selain meningkatkan eksistensi ayam ekor lidi, juga memicu semangat untuk terus mengembangkan kualitas ternak. (sip/ind)
Editor : Indra Gunawan