LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO – Sepintas bentuknya mirip hewan purba. Cangkangnya berduri menyerupai buaya, rahangnya tajam, dan gigitannya sangat kuat. Itulah aligator snapping turtle (AST), kura-kura asal Amerika Utara yang kini ikut meramaikan koleksi reptil milik Mamak Sumarsidik, warga Dusun Blangit, Desa Karanglangit, Kecamatan Lamongan.
Wartawan koran ini melihat langsung koleksi unik itu di teras rumah Mamak, Sabtu (26/7). Saat dipersilakan masuk dengan ramah, tampak deretan akuarium dan kotak pemeliharaan berisi berbagai jenis kura-kura. Bukan hanya AST, Mamak juga memiliki kura-kura hilari, mata-mata, cherry head, hermani, stinkpod, dan sazorback, yang semuanya berasal dari luar negeri.
Selain itu, pria 47 tahun ini juga memelihara kura-kura lokal seperti Ambon, byoku, dan piput.
''Lokal sudah punya, jadi mencoba yang luar agar koleksinya nambah,” ujarnya.
Hobi memelihara kura-kura mulai tekuninya sejak 2001. Hingga kini, ada sekitar 20 jenis kura-kura dalam koleksinya, yang terdiri atas tiga jenis kura-kura darat dan sisanya kura-kura air.
Salah satu yang paling menarik adalah AST. Menurut Mamak, kura-kura ini hidup di habitat air tawar dan memiliki organ dalam mulut yang menyerupai cacing.
''Itu bagian yang mengelabui mangsanya. AST ini memancing ikan dengan cara menggoyang-goyangkannya,” terangnya.
Dia menambahkan, karakter AST sangat agresif. ''Kalau menggigit susah lepas,” imbuhnya.
Karena itu, saat hendak memegang, Mamak memperingatkan agar hanya dipegang pada bagian ekor atau tempurung belakang. Itu pun harus dengan hati-hati.
Meski tampak sangar, perawatan AST relatif mudah. Pakan cukup diberikan setiap lima hari sekali, biasanya berupa lele atau kepala ayam.
''Untuk air, tidak rewel, kalau kotor diganti,” tambah Mamak.
Berbeda dengan kura-kura darat yang butuh banyak sinar matahari, AST tidak memerlukannya. Jika masih kecil cukup dijemur sebentar. Kalau sudah besar, cukup 15 menit penjemuran saja.
Selain AST, Mamak juga menunjukkan kura-kura stinkpod miliknya. Ukurannya mungil, hanya 11–15 cm.
''Referensi yang saya baca, ini kura-kura terkecil sedunia,” ujarnya.
Perawatannya juga mudah, cukup dijemur seminggu sekali dengan sedikit air selama 15 menit. “Makannya pelet, jangkrik, atau ulat hongkong,” imbuhnya.
Koleksi air lainnya antara lain kura-kura hilari, endemik Amerika Selatan; kura-kura mata-mata (Chelus fimbriatus), juga dari Amerika Selatan; dan kura-kura razorback yang memiliki lunas tajam di punggungnya.
Adapun koleksi kura-kura darat, Mamak punya sulcata, cherry head, dan hermani. Kura-kura cherry head memiliki bintik merah menyerupai buah ceri di kepala. “Untuk makannya buah dan sayur, tidak ada perawatan khusus,” katanya.
Sedangkan kura-kura hermani berasal dari hutan tropis, berbeda dengan sulcata yang berasal dari gurun. Meski hobi memelihara sejak lama, Mamak mengaku pernah menemui kendala, terutama saat merawat kura-kura darat.
“Kadang kura-kura darat bisa kena pilek sama ABS (batu kapur),” katanya.
Sedangkan, penyakit pilek biasanya muncul karena suhu terlalu dingin atau kurang sinar matahari. Sementara ABS terjadi akibat dehidrasi, pola makan salah, dan kurang aktivitas.
''Jadi harus tahu pencegahannya. Biasanya dikasih pepaya. Untuk sayuran cuma dua yang tidak boleh, yakni kangkung dan bayam,” pungkasnya. (sip/ind)
Editor : Anjar D. Pradipta