Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Rahasia Merawat Merpati Hias Impor agar Tetap Cantik dan Sehat

Ahmad Asif Alafi • Minggu, 20 Juli 2025 | 22:14 WIB

 

Muhammad Irfan menunjukkan merpati hias German beauty homer (GBH) yang berasal dari Jerman.
Muhammad Irfan menunjukkan merpati hias German beauty homer (GBH) yang berasal dari Jerman.

LAMONGAN, RADARLAMONGAN. - Merpati hias impor memiliki daya pikat tersendiri, yang mudah dikembangbiakkan di Kota Soto. Wartawan koran ini mendapat kesempatan mengunjungi rumah pehobi merpati hias impor di Desa Warungering, Kecamatan Kedungpring, Muhammad Irfan, Sabtu (19/7).

Dengan ramah, Muhammad Irfan mengajak masuk ke belakang rumah. Di area berukuran 10 meter x 3,5 meter tersebut terdapat sangkar susun berukuran masing-masing 60 centimeter (cm) x 60 cm dengan tinggi 50 cm. Setiap sangkar diisi dua merpati hias. Tak hanya impor, dia juga merawat beberapa jenis merpati hias lokal.

Kahfi, sapaan akrabnya mulai merawat merpati hias sejak awal Tahun 2019. Saat itu baru satu jenis yang dirawat, yakni merpati lahore. Setelah mengikuti kontes pertama kali di Surabaya, dia tertarik mengoleksi lebih banyak burung merpati hias.

‘’Merpati hias di kandang lebih dari 10 jenis,’’ ucapnya sambil menunjukkan.

Merpati ini didatangkan dari berbagai negara, misalnya merpati German beauty homer (GBH) yang berasal dari Jerman. Ciri khasnya memiliki paruh bengkok. Selain itu terdapat merpati French mondain asal Prancis, dengan ciri khas memiliki tubuh besar.

Pada kandang lain, merpati frillback cukup menarik perhatian, karena memiliki ciri khas utama pada bulu sayap, ujung ekor, dan sayap yang keriting. ‘’Kemudian merpati Chinese owl, dengan dada bulunya membelah,’’ imbuhnya.

Kahfi menunjukkan jenis lainnya. Seperti merpati maltese dengan ciri khas leher dan kaki sama-sama panjang, merpati English carrier dengan ciri khas tonjolan pada paruh dan leher panjang, dan merpati Old duck capuchine yang memiliki mantel di leher.

Serta merpati Indian fantail non saddle dengan ciri khas pada ekornya yang berbentuk seperti kipas yang mengembang, merpati Indian fantail saddle, merpati parlol tambler dari Scotlandia, dan merpati gaditano dari Spanyol.

‘’Merpati felegyhazer ciri khasnya hiasan di leher, asli Hungaria,’’ sambungnya.

Namun, merpati hias lokal jumlahnya justru tak sebanyak impor. Meliputi merpati cerai yang bisa menempuh jarak jauh dan merpati Jawa sungut. Merpati Jawa sungut ini baru saja meraih best of the best di kontes merpati hias Malang.

‘’Kebanyakan jenis impor, saya mengembangkan endemik Indonesia baru beberapa bulan, khususnya merpati Jawa sungut,’’ ucap laki-laki berusia 45 tahun ini.

Kahfi kerap mengikuti kontes, yang paling jauh di Puncak Bogor dan Makassar. Hampir tiap tahun ada piala yang dibawa pulang. Merpatinya pernah meraih best of the best sebanyak tiga kali. Kini ada 40 koleksi piala di rumahnya.

Kahfi memiliki cara tersendiri agar mencapai hasil yang maksimal dalam kontes. Seperti dua bulan sebelum kontes ada persiapan khusus. Di antaranya cabut bulu dan rutin dimandikan.

‘’Istilahnya kita salon sendiri, itu kebutuhan buat hiasan,’’ ucapnya.

Baik merpati hias lokal atau merpati impor, yang perlu diperhatikan yakni cara perawatannya. Kahfi mengatakan, merpati impor lebih rentan terserang penyakit karena adaptasi lingkungan, sehingga kebersihan kandangan perlu dijaga. Berbeda dengan endemik lokal, yang sudah bisa beradaptasi dengan baik.

Dia biasa memandikan merpati dua minggu sekali untuk mengantisipasi kutu. Sedangkan untuk 60 kandang, biasa dibersihkan seminggu sekali karena ada kesibukan lain.

‘’Tapi idealnya standar minimal dua hari sekali dibersihkan kandangnya,’’ tutur Kahfi.

Sedangkan, ada beberapa jenis merpati hias yang butuh makanan berbeda. Seperti gaditano makan jagung kecil atau biasa disebut jagung Madura. Untuk merpati jenis lain bisa dicampur antara jagung, gandum, voer, kacang ijo, dan beras merah.

‘’Saya memberi makan sehari satu kali setiap sore. Kenapa sekali karena kalau sisa menyebakan bakteri masuk, akhirnya membuat merpati sakit,’’ katanya.

Ada cara tersendiri dalam mengembangbiakkan merpati impor. Biasanya Kahfi butuh merpati pengasuh. Jadi ketika merpati impor ini bertelur, maka dipindahkan di merpati lokal yang menjadi merpati asuh. Sebab seperti merpati GBH tidak bisa meloloh anaknya sendiri.

‘’jadi merpati lokal mengerami sampai menetas,’’ tukasnya.

Menurut dia, merpati impor yang baru didatangkan perlu adaptasi lingkungan. Sehingga dalam pengembangbiakan tidak bisa langsung menghasilkan telur yang bisa menetas. ‘’Sehingga butuh empat sampai lima kali percobaan,’’ pungkasnya. (sip/ind)

 

 

Editor : Anjar D. Pradipta
#merpati hias #lamongan