RADARLAMONGAN.CO, JAWAPOS.COM — Tak hanya terkenal dengan kuliner lezat seperti soto lamongan dan tahu campur yang menggoyang lidah, kabupaten yang terletak di pesisir utara Jawa Timur ini juga menyimpan potensi kekayaan alam yang kerap luput dari sorotan.
Di balik hiruk-pikuk kota dan ramainya sentra wisata, Kabupaten Lamongan, khususnya di kawasan wilayah pesisir pantai utara menyimpan keberagaman fauna endemik yang tak kalah menarik.
Sejumlah spesies langka yang jarang ditemukan di daerah lain justru bertahan hidup di habitat alami wilayah ini.
Temuan ini terungkap dari hasil survei ilmiah dan pengamatan lapangan terbaru yang memotret kekayaan hayati Lamongan secara lebih mendalam.
Berikut rangkuman informasi teranyar berdasarkan survei ilmiah dan pengamatan lapangan.
1. Gastropoda Mangrove.
Studi terakhir (Mar–Nov 2022) mencatat 24 jenis gastropoda (keong laut) dari 10 famili di ekosistem mangrove pesisir Lamongan. Kelimpahannya menunjukkan Muricidae sebagai famili paling dominan dengan 8 genus. Gastropoda ini memainkan peran penting sebagai “insinyur ekosistem” di padang lamun dan mangrove — sekaligus menjadi sumber pangan dan kerajinan lokal .
2. Krustasea Brachyuran (Kepiting).
Hasil survei September 2022 di zona intertidal Paciran mengungkap 6 spesies kepiting dari empat famili: Eriphia ferox, E. sebana, Myomenippe hardwickii, Thalamita crenata, T. danae, dan Varuna litterata. Ini memperkaya catatan biodiversitas lokal, sebelumnya hanya 20 spesies kepiting diketahui.
3. Makrozoobentos Ecosystem Lamun.
Penelitian terhadap komunitas makrozoobentos (moluska, ekinodermata, annelida) di padang lamun Paciran menunjukkan kelimpahan antara 486–608 individu/m², dengan indeks keanekaragaman sedang (~1,7) dan keseragaman tinggi (0,7). Gastropoda Cerithium granosum paling banyak ditemui — artinya ekosistem masih sehat dan stabil.
4. Javan Ferret-Badger (Melogale orientalis).
Meski tak hanya di Lamongan tapi meliputi hampir se-Jawa, Melogale orientalis adalah jenis musang-badger khas Jawa, habitatnya mencakup lahan hutan di dataran rendah hingga pegunungan. Berdasarkan IUCN, statusnya “Least Concern”, namun persebarannya terbatas — hanya tercatat di sekitar 30 lokasi di Jawa Timur.
5. Banded Palm Civet (Hemigalus derbyanus)
Spesies viverrid ini merupakan karnivora nokturnal yang menyebar di Asia Tenggara, termasuk Jawa. Meski tidak sepenuhnya endemik Lamongan, kehadirannya di hutan rendah pesisir semakin langka akibat fragmentasi habitat; populasinya diperkirakan menyusut 30% dalam tiga generasi.
• Keanekaragaman Ekosistem Pesisir.
Fauna seperti gastropoda dan krustasea adalah indikator paling sensitif terhadap perubahan kualitas lingkungan. Kelimpahan dan diversitas mereka mencerminkan kondisi sehat ekosistem lamun dan mangrove Lamongan.
• Nilai Ekonomi Lokal.
Gastropoda digunakan sebagai sumber protein dan bahan kerajinan suvenir, mendukung mata pencaharian masyarakat pesisir. Sementara kepiting lokal bisa dijadikan potensi baru dalam budidaya.
• Konservasi Fauna Terestrial.
Adanya mamalia seperti musang-badger dan civet menunjukkan pentingnya menjaga hutan rendah dan keberlanjutan habitat alami — melawan fragmentasi dan konversi lahan.
Rekomendasi Aksi
1. Pemetaan Biodiversitas Berkala.
Monitoring rutin setiap 2–3 tahun akan membantu memetakan tren populasi dan menangkap ancaman dini.
2. Edu wisata dan Edukasi.
Kawasan wisata ekologi seperti Maharani Zoo & Goa di Paciran bisa dikembangkan sebagai pusat edukasi fauna lokal.
3. Penguatan Pelestarian Mangrove & Lamun.
Melibatkan masyarakat pesisir untuk restorasi vegetasi pantai, sekaligus menjaga habitat darat dan laut.
4. Perluasan Area Lindung.
Penetapan kawasan konservasi di sekitar hutan rendah dan pesisir agar mamalia endemik terlindungi.
Lamongan menyimpan kekayaan fauna endemik yang jarang terekspos, dari ekosistem pesisir hingga hutan rendah. Data mutakhir menunjukkan potensi besar untuk pengembangan ekowisata, riset, dan upaya konservasi.
Ke depannya, kolaborasi antara pemerintah lokal, akademisi, dan masyarakat sangat penting agar keseimbangan alam dan budaya tetap terjaga — sembari melanjutkan tradisi kuliner yang telah melegenda.
Semoga berita ini bisa membuka mata banyak pihak bahwa Lamongan tidak hanya “lezat” di lidah, tapi juga kaya di alam.(feb)
Editor : Anjar D. Pradipta