LAMONGAN, Radar Lamongan - Sukirman menyulap lahan berukuran 8 meter x 4,5 meter di belakang rumahnya menjadi kandang murai batu.
Pria asal Kelurahan Banjarmendalan/ Kecamatan Lamongan ini harus pintar mengatur biaya operasional harian.
Salah satunya dengan membudidayakan jangkrik sebagai pakan murai batu.
Sukirman mengaku, biaya pakan bisa ditekan hingga 50 persen, dibandingkan jika membeli jangkrik di luar.
Jangkrik yang dibudidaya yakni jangkrik cliring madu atau jangkrik alam.
Lebih efesien ternak sendiri, terangnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (22/6).
Sukriman memiliki 90 ekor burung murai batu. Terdiri dari 17 pasang indukan, serta sisanya anakan berumur satu bulan hingga dua bulan.
Dalam tiga hari seluruh murai batu menghabiskan 1,4 kilogram (kg), imbuhnya.
Terdapat tujuh petak untuk tempat membudidayakan jangkrik.
Dengan per petak berukuran panjang 140 cm, lebar 60 cm, dan tinggi 60 cm.
Satu petak untuk indukan, satu petak untuk penetasan, dan petak yang lainnya untuk anakan.
Di bawah masing-masing petak diberi air untuk mencegah semut.
Selain itu di atasnya diberi penutup agar cicak tidak bisa masuk.
Di dalamnya terdapat tempat telur ayam sebagai tempat bersembunyi.
Namun, hanya di petak indukan yang terdapat baki berisi pasir untuk bertelur.
Untuk indukan jangkrik ini idealnya satu jantan banding lima betina, kata bapak tiga anak ini.
Sukirman biasa menggunakan pasir Lumajang sebagai media bertelur. Perlu diperhatikan yakni pasir harus lembab.
Saat musim kemarau seperti ini, minimal dua kali penyemprotan saat pagi dan sore untuk menjaga kelembaban pasir.
Kalau pasir kering tidak mau bertelur, ujarnya. Dia menjelaskan, untuk penetasan telur jangkrik ada dua cara. Pertama telurnya dipisah dengan pasir.
Caranya media pasir yang bercampur telur ditaruh di air dalam bak, sehingga telur akan naik dan pasir di bawah. Selanjutnya tinggal mengambili telur.
Proses lanjutan dipilih telurnya, lalu dikeringkan dengan kipas angin, tidak boleh terkena matahari, setelah itu ditetaskan, ucapnya.
Proses penetasan membutuhkan waktu sekitar 12 hari.
Anakan jangkrik yang siap menjadi pakan burung berusia 25 hari hingga 30 hari.
Sedangkan, untuk jangkrik yang sudah keluar sayapnya bakal dijadikan indukan lagi.
Karena kalau jantan setelah kawin dan betina setelah bertelur mati, jadi rata-rata usia 77 hari umurnya, kata Sukirman.
Menurut dia, jangkrik mempengaruhi suara burung murai batu. Di dalam kandang jangkrik, Sukirman juga memberikan pakan campuran rempah-rempah yakni kunir, jahe, kencur, dan air madu.
Tujuannya untuk menghasilkan pakan yang lebih berkualitas.
Jika produksi jangkrik banyak dan lebih untuk diberikan makan burung ini, maka selebihnya dijual, pungkasnya. (sip/ind)
Editor : Anjar D. Pradipta