LAMONGAN, Radarlamongan.co – Bonsai santigi memiliki keunikan dan nilai pasar yang cukup tinggi. Hal itu yang menggugah
Arif, warga Kelurahan/ Kecamatan Brondong lebih melirik bonsai santigi dibanding bonsai jenis lainnua.
Arif hanya memiliki satu pohon bonsai cemara udang, yang sisanya didominasi bonsai santigi. Saat memasuki rumahnya, terdapat puluhan bonsai santigi berbagai ukuran dan bentuk.
Pohon santigi memiliki karakteristik unik, sebagai tanaman pesisir yang tumbuh di daerah pantai berkarang atau berpasir.
Tanaman dengan nama latin pemphis acidula tersebut dikenal dengan corak batangnya, yang menyerupai kulit pohon berusia puluhan tahun. Kering dan penuh guratan, sehingga membuatnya menjadi pilihan menarik untuk dibuat bonsai.
Arif belajar bonsai tanaman sejak Tahun 1998. Koleksi bonsai yang dimilikinya rerata bonsai santigi dengan total sekitar 80 tanaman. Arif menjelaskan, bonsai santigi habitat paling banyak di dekat laut.
‘’Jadi memilih pohon yang paling memungkinkan cepat subur di daerah sini, ya ambil santigi,’’ ujar laki-laki 53 tahun ini.
Ketertarikannya pada bonsai santigi karena karakter dan investasi. Sebab, diakui Arif, santigi sudah cukup populer bagi orang Jawa, yang dulu kayunya dibuat untuk akik. Selain itu, batang santigi yang mati juga tetap laku untuk aquascape.
‘’Jadi uniknya kayu santigi itu kuat,’’ ucapnya.
Arif menjelaskan, bagian atas tanaman santigi butuh panas. Sedangkan bagian bawah membutuhkan lembab. Sehingga untuk perawatan harus mengetahui karakteristik pohon santigi.
Terutama menjaga kelembaban media tanam. Salah satunya dalam penyiraman air tidak boleh telat, karena tanaman ini butuh kelembaban.
Untuk itu, Arif biasa menyiram sehari dua kali. Saat pagi menyiram media tanamnya, serta saat sore menyiram daun dan medianya.
‘’Kenapa daun saya siram?. Debu itu kan menghambat fotosintesis. Jadi itu harus saya bersihkan, biar pagi hari dia ada matahari agar bisa maksimal,’’ imbuhnya.
Arif menunjukkan salah satu bonsai santigi miliknya yang memiliki batang besar yang ditanam di dalam pot. Untuk menjaga kelembaban, perlu diberi sungkup atau plastik, agar tetap subur dengan kelembaban terjaga.
Selain air, Arif mengaku bonsai ini butuh pemupukan. Dia biasa menggunakan pupuk organik dari fermentasi buah. ‘’Pupuk perlu, saya kasih satu bulan sekali,’’ ucapnya.
Bagi Arif, bonsai ini seni berkelanjutan, yang membuat perawatannya harus terus dilakukan. Saat ini, Arif masih menjadikan bonsai santigi ini sebagai hobi. Namun, dia meyakini jika hobinya ini suatu saat menjadi ladang investasi.
‘’Bagaimana bisa menikmati hobi, kalau belum maksimal sudah saya jual,’’ tuturnya. (sip/ind)
Editor : Anjar D. Pradipta