LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO - Kehidupan keberagaman agama di Desa Balun, Kecamatan Turi bukan sekadar teori.
Nilai toleransi justru menjadi praktik yang terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Di desa yang dikenal sebagai Desa Pancasila itu, rumah ibadah dari tiga agama berdiri berdampingan.
Di sisi selatan Masjid yang hanya terpisah jalan sempit selebar enam meter, berdiri sebuah Pura dengan arsitekturnya yang khas. Sementara sebuah Gereja berdiri berada di sisi timur seberang lapangan.
Tahun ini Hari Raya Nyepi dan Hari Raya Idul Fitri saling berdekatan. Dua acara keagamaan tersebut cukup kontradiktif.
Baca Juga: Jelang Lebaran, Sejumlah Lapak di Pasar Puter Kembangbahu, Lamongan Dipadati Pembeli
Hari Raya Nyepi dijalani dengan penuh keheningan. Sebaliknya, Hari Raya Idul Fitri diwarnai dengan lantunan takbir yang dikumandangkan penuh.
Pemangku Pura Sweta Maha Suci Desa Balun Tadi mengatakan, para tokoh agama Hindu, Islam, dan Kristen di Desa Balun mengadakan pertemuan, untuk menyepakati langkah bersama jika perayaan hari besar berdekatan atau bersamaan.
‘’Kalau toh seandainya itu bersamaan, itu kita lakukan seperti biasa. Kalau Islam ada takbir, silakan takbir. Kalau Hindu waktu Nyepi, ya tetep Nyepi,’’ ucap Tadi dengan senyum kecil.
Dia menegaskan, umat Hindu yang menjalani Nyepi tidak merasa terganggu oleh aktivitas masyarakat lain.
‘’Jadi Nyepi ya kita membayangkan sepi dalam diri kita. Jadi kita tidak merasa terpengaruh oleh suara-suara speaker, suara orang-orang seperti biasa,’’ ucapnya.
Dia mengajak seluruh umat beragama untuk tetap menjaga toleransi. ‘’Sebab dengan toleransi itulah, kita bisa menemukan rasa kedamaian,’' ujarnya.
Baca Juga: Bupati Yes Tutup Safari Ramadan 1447 H di Desa Tritunggal, Kecamatan Babat, Lamongan
Menjelang Hari Raya Nyepi tahun ini, warga Hindu setempat mulai mempersiapkan pawai ogoh-ogoh yang saat ini sudah sekitar 75 persen.
‘’Dalam pembuatan, bukan orang Hindu saja. Ada gabungan dari teman-teman Kristen dan Islam ikut membantu dalam pembuatan,” sambungnya.
Dia menambahkan, pawai ogoh-ogoh dijadwalkan berlangsung pada Tanggal 18 Maret. Setelah itu, umat Hindu akan menjalani Catur Brata Penyepian pada 19 Maret selama 24 jam.
‘’Nyepi dimulai jam 06.00 WIB tanggal 19 Maret sampai pukul 06.00 WIB tanggal 20 Maret,” terangnya.
Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Miftahul Huda Desa Balun Rokhim mengatakan, pihaknya masih menunggu kepastian jadwal Hari Raya Idul Fitri dari pemerintah.
Dia mengatakan, jika nantinya malam takbiran bertepatan dengan Nyepi, maka masyarakat Muslim siap menyesuaikan bentuk perayaannya.
‘’Kalau Nyepi bersamaan Hari Raya Idul Fitri atau takbiran, ya nanti kita mengurangi tingkat keramaian atau kemeriahanya,’’ tutur Rokhim.
Menurutnya, terpenting adalah menjaga kerukunan antarumat beragama di Desa Balun. ‘’Jadi diantara masing-masing agama bisa melaksanakan kegiatan ibadah sesuai agamanya, dan tidak saling mengganggu dan tidak saling diganggu, merasa aman,’’ ungkapnya. (sip/ind)
Editor : Indra Gunawan