TIKUNG, RADARLAMONGAN.CO - Warga Desa Pengumbulanadi, Kecamatan Tikung mendadak gempar, Rabu (11/3).
Suradi, 41, warga setempat, ditemukan mengembuskan napas terakhir dengan kondisi mengenaskan di dalam gubuk sawah miliknya. Ia nekat mengakhiri hidup menggunakan sebilah sabit (celurit) yang baru saja diasahnya.
Kapolsek Tikung AKP Anang Purwo melalui Kasi Humas Polres Lamongan Ipda M. Hamzaid membenarkan kejadian memilukan tersebut. Petugas kepolisian langsung meluncur ke lokasi begitu menerima laporan dari warga.
''Memang benar, ada orang meninggal dunia karena bunuh diri,'' terang Ipda Hamzaid saat dikonfirmasi.
Baca Juga: Coach Bima Miliki PR Bangkitkan Mental Pemain Persela Lamongan
Peristiwa bermula saat korban berangkat dari rumah menuju sawah dengan membawa sabit. Setibanya di lokasi, korban sempat bertemu dan menyapa dua orang warga di luar gubuk. Korban menanyakan keberadaan alat asah di dalam gubuk tersebut.
Setelah dijawab oleh saksi bahwa alat tersebut ada, korban masuk untuk mengasah celurit miliknya.
Dari situlah, kedua temannya melihat korban sedang mengasah celurit miliknya. Namun, kecurigaan muncul setelah 20 menit berlalu, korban tak kunjung keluar dari gubuk.
Saksi yang merasa janggal kemudian mengecek ke dalam. Alangkah terkejutnya mereka saat mendapati korban sudah dalam kondisi bersimbah darah.
Baca Juga: Hujan Disertai Angin Kencang, Rawan Pohon Tumbang
Kejadian tersebut segera dilaporkan ke perangkat desa dan pihak kepolisian. Jasad korban kemudian dievakuasi ke RSUD dr. Soegiri Lamongan untuk dilakukan otopsi luar.
Mengenai motif, dugaan kuat mengarah pada kondisi psikologis korban. Berdasarkan keterangan yang dihimpun, korban diduga mengalami depresi akibat hasil pertanian yang tidak sesuai harapan.
Dugaan sementara, korban mengakhiri hidupnya karena depresi akibat gagal panen. Mengingat sebelumnya korban telah bercerita terus-menerus adanya panen tak maksimal.
Pihak keluarga mengaku telah ikhlas dan menganggap kejadian ini sebagai cobaan. ''Keluarga korban telah menerima kejadian tersebut sebagai musibah,'' pungkasnya. (mal/ind)
Editor : Indra Gunawan