radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - SUASANA alam yang asri berpadu dengan kekayaan tradisi turun-temurun, menjadi daya tarik Desa Moronyamplung, Kecamatan Kembangbahu.
Desa ini memiliki potensi wisata alam sekaligus budaya yang unik.
Salah satunya melalui Taman Wisata dan Perkemahan (TWP) Bumi Moronyamplung, yang menyuguhkan panorama alam dipadu pedesaan yang mempesona.
Termasuk keberadaan tanaman langka, sebagai sarana edukasi bagi anak-anak.
Inovasi ini mengantarkan desa tersebut meraih penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia 2023 dari Kemenparekraf RI.
Selain wisata, desa ini juga tetap menjaga warisan adat leluhur yang lestari hingga kini.
Kades Moronyamplung, Sri Rahayu S, menuturkan Desa Moronyamplung termasuk desa tua, sehingga potensi desa tak lepas dari sejarah panjang yang berkaitan erat dengan Kerajaan Majapahit.
‘’Makanya peninggalan-peninggalan dari Kerajaan Majapahit dan tradisi masih ada, dan masih diikuti oleh beberapa masyarakat, salah satunya di Moronyamplung ada kegiatan setiap tahun yaitu keleman,’’ ujarnya.
Keleman ini yakni tradisi satu desa membawa tumpeng ke TWP. Sejak 2022, tradisi itu dikemas menjadi Festival Keleman, lengkap dengan kirab budaya, pameran UMKM, hingga kirab tumpeng.
Festival ini bahkan masuk dalam agenda Hari Jadi Lamongan (HJL) dan sukses menarik wisatawan dari berbagai daerah, termasuk kalangan kampus dan lembaga nasional.
‘’Seperti dari UI dari BRIN hadir di sini untuk menyaksikan itu, dan tamu-tamu dari luar daerah itu kita menyiapkan satu tempat untuk istirahat, home stay di rumah warga,’’ katanya.
Sehingga, lanjut dia, pengunjung bisa menikmati kehidupan desa yang sebenarnya itu tinggal di rumah warga, yakni pagi-pagi ikut jalan ke sawah. Serta saat sore hari menikmati hutan jati dengan suara-suara binatang yang alami, dan itu sangat menarik wisatawan.
‘’Pengalaman wisata di Moronyamplung semakin lengkap dengan konsep “back to desa”,’’ ucap Sri Rahayu.
Dilengkapi dengan potensi Taman Wisata dan Perkemahan (TWP) Bumi Moronyamplung dengan tanaman langka, yang mengedepankan kekayaan sumber daya alam.
‘’Kita akan jaga keadaan TWP seperti aslinya, itu adalah milik generasi berikutnya, kita jaga biar nanti kita serahkan ke mereka Kembali dalam bentuk aslinya,’’ ujarnya.
Dari sini, kades perempuan ini terus mensosialisasikan kepada masyarakat. Sebab, semua itu tidak lepas dari peran masyarakat, dengan Pemdes Moronyamplung mensuport dan memfasilitasi.
‘’Kita kunjungan ke dusun-dusun, selalu kita tetap sampaikan kepada masyarakat, bahwa itu adalah harta kekayaan yang tidak dimiliki oleh desa lain. Ini adalah milik kita yang patut dijaga, patut dilestarikan, dan siapa lagi yang melestarikan kalau bukan kita,’’ imbuhnya.
Ke depan, Sri Rahayu berharap potensi desa dapat berkembang pesat, dengan dukungan pemerintah daerah dan peran aktif masyarakat.
‘’Harapannya, keberadaan taman wisata tidak hanya memperkuat identitas budaya, tapi juga memberikan manfaat ekonomi nyata bagi warga. Mulai dari UMKM, parkir, hingga homestay, semua bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (sip/ind)
Editor : Arya Nata Kesuma