LAMONGAN, Radar Lamongan - Kegiatan Nyepi bakal berbarengan awal Ramadan 1445 Hijriah.
Namun, muslim di Desa Balun memiliki cara toleransi, agar Salat Tharawih dan tadarus tidak mengganggu umat Hindu yang melaksanakan Nyepi.
Ketua Takmir Masjid Miftahul Huda, Desa Balun, Titis Suparno menjelaskan, masyarakat Islam setempat sudah terbiasa menghormati, ketika kegiatan berlangsung bersamaan.
Dia mengakui, masyarakat sangat antusias ketika tarawih pertama, dengan melaksanakan ibadah menggunakan speaker (pengeras suara).
Namun, lanjut dia, karena acara bersamaan dengan Nyepi, maka diatur agar tidak mengganggu tapi kegiatan tetap berjalan.
Maka di Masjid ini kegiatan biasanya yang menggunakan speaker atas (luar, Red), kita alihkan ke speaker bawah.
Jadi di dalamnya nanti cukup hanya terdengar tidak jauh, cukup di dalam masjid saja, terang Titis, sapaan akrabnya.
Selain itu, selama Ramadan kegiatan tadarus menggunakan speaker dibatasi hingga jam 22.00 WIB. Hal itu agar tidak mengganggu istirahat umat Hindu yang ada di Balun.
Itu salah satu toleransi, bahwa kita tidak mau menang sendiri. Kalau lampunya biasanya di Masjid sekitar jalan pagar kita matikan, di dalam Masjid tetap nyala, imbuhnya.
Mangku Tadi, Pemangku Pura Sweta Maha Suci, Desa Balun mengakui, antar umat beragama di Desa Balun sudah kebiasaan saling toleransi.
Menurut dia, umat muslim menggunakan speaker luar saat adzan saja.
Kita tidak minta dihormati, tapi beliau (umat Islam, Red) menghormati kita.
Meski kecil masih dirangkul, misal lampu di sebelah selatan juga dimatikan, terangnya.
Selain itu, Tadi juga mengakui umat agama lain juga membantu keamanan saat pawai ogoh-ogoh. Dalam pembuatan ogoh-ogoh dibantu teman-teman muslim dan kritiani, pungkasnya. (sip/ind)
Editor : Anjar D. Pradipta