Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Pelatih Persela Lamongan Tanggapi Tindak Kekerasan di Liga 4, Bima Sakti Tegaskan Pentingnya Jaga Sportivitas Sejak Dini

Anjar Dwi Pradipta • Rabu, 7 Januari 2026 | 18:52 WIB
Tindak kekerasan di Liga 4 menjadi sorotan dari berbagai pihak, termasuk pelatih Persela Lamongan, Bima Sakti.
Tindak kekerasan di Liga 4 menjadi sorotan dari berbagai pihak, termasuk pelatih Persela Lamongan, Bima Sakti.

LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO – Insiden tindak kekerasan yang terjadi di kompetisi Liga 4 musim 2025/2026 menuai kecaman luas dari insan sepak bola nasional.

Aksi brutal berupa tendangan keras ke arah dada pemain lawan dalam laga Liga 4 Jawa Timur dinilai telah mencederai nilai sportivitas dan fair play yang seharusnya dijunjung tinggi di lapangan hijau.

Kasus yang melibatkan pemain PS Putra Jaya Pasuruan itu bahkan berujung pada sanksi larangan beraktivitas sepak bola seumur hidup dari Komite Disiplin PSSI Jawa Timur.

Keputusan tegas tersebut diambil karena pelanggaran dinilai sebagai bentuk kekerasan berat yang membahayakan keselamatan pemain lain.

Menanggapi kejadian tersebut, mantan pemain Timnas Indonesia sekaligus pelatih kepala Persela Lamongan, Bima Sakti, menyampaikan keprihatinannya. Menurutnya, insiden tersebut menjadi tamparan keras bagi sepak bola Indonesia, khususnya di level kompetisi bawah.

“Ya ini sangat memprihatinkan ya. Artinya sepak bola kita harus dijaga secara bersama-sama. Dengan kejadian ini, saya pikir sangat mencoreng sekali,” ujar Bima.

Bima mengaku sangat kecewa dengan perilaku pemain yang bertindak tidak fair di lapangan. Ia menegaskan bahwa sepak bola bukan hanya soal menang dan kalah, tetapi juga tentang sikap saling menghormati.

“Sebagai mantan pemain bola, saya sangat kecewa dengan perilaku pemain yang tidak fair. Kita harus respek terhadap lawan, respek kepada wasit, respek dengan pelatih. Jangan ada lagi kejadian-kejadian yang mencederai lawan,” tegasnya.

Menurut pelatih berusia 48 tahun itu, semua insan sepak bola sejatinya bekerja dan mencari nafkah di lapangan. Karena itu, keselamatan dan sportivitas harus menjadi prioritas utama.

“Kita sama-sama cari makan, bekerja di lapangan. Kita harus saling menjaga dan saling melindungi. Menang memang target utama, tapi jangan sampai menghalalkan segala cara. Kemenangan harus dicapai dengan fair dan sportivitas yang tinggi,” tambahnya.

Lebih jauh, Bima Sakti juga menyampaikan pesan khusus kepada para pemain muda yang saat ini berkiprah di Liga 4. Ia menilai kompetisi tersebut sejatinya merupakan wadah pembinaan dan penambahan jam terbang, bukan sekadar ajang mengejar hasil instan.

“Yang pasti semua stakeholder harus saling mendukung. Mulai dari manajemen, pelatih, sampai orang tua. Target menang boleh, tapi kemenangan bukan tujuan utama,” ujarnya.

Bima menegaskan, Liga 4 adalah tahap awal pembentukan mental dan karakter pemain. Jika sejak dini terbiasa bermain kasar dan menghalalkan segala cara, hal itu justru akan menjadi bumerang ketika naik ke level yang lebih tinggi.

“Liga 4 ini tempat mereka menambah pengalaman. Ujung benang merahnya mereka akan naik ke Liga 1. Kalau mentalnya tidak baik, terbiasa menang dengan cara kasar, ketika naik level wasit sudah sangat profesional, apalagi ditunjang teknologi VAR, itu akan sangat berbahaya bagi karier mereka sendiri,” pungkasnya.

Insiden kekerasan di Liga 4 ini diharapkan menjadi pelajaran penting bagi seluruh pihak agar sepak bola Indonesia tumbuh dengan mental juara yang sehat, fair, dan beradab, sejak level paling dasar. (jar)

Editor : Anjar D. Pradipta
#pssi jatim #liga 1 #lamongan #PS Putra Jaya #persela #bima sakti #pasuruan #liga 4