radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Langit Lamongan pagi itu begitu lapang, melukiskan warna biru cerah. Namun, di balik cerahnya cakrawala, ada sunyi yang mendadak luruh. Ada duka yang mengalir tenang, namun menghunjam dalam. Jumat (26/6) sekitar pukul 09.30, sang pemilik semesta menjemput kembali salah satu pelita terbaiknya. KH. Abdul Aziz Khoiri, sosok ulama sepuh yang kharismatik, telah purna menunaikan tugas kemanusiaannya di bumi, berpulang ke haribaan Sang Khalik.
Bagi masyarakat Lamongan, kepergian sang kiai bukan sekadar hilangnya seorang tokoh, melainkan seperti redupnya satu bintang penunjuk arah di kubah malam. Kesedihan mendalam tak mampu disembunyikan oleh Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi. Bupati Yes mengaku sangat kehilangan. Namun, di sela rasa kehilangan, ada keyakinan yang menguat: kiai sepuh itu berpulang di hari terbaik. Hari yang didambakan seluruh umat muslim. Sehingga, Bupati meyakini Kiai Aziz pergi dalam keadaan husnul khotimah.
Bupati Yes menceritakan, sepekan lalu, dirinya masih berkesempatan menjenguk kiai yang dirawat di rumah sakit. Kiai Aziz masih mengenalinya. Bahkan, mendoakan.
Baca Juga: Mengenal KH Ahmad Muhtadi, Ulama Pejuang Kemerdekaan yang Diabadikan Jadi Nama Jalan di Lamongan
Selain hubungan antara pemimpin daerah dan ulama, Bupati Yes sangat mengenal dan dekat dengan pendiri Pondok Pesantren Al Maruf Lamongan itu. Bahkan, keikutsertaannya dalam kontestasi pilkada merupakan dorongan dari kiai besar itu. “Niat maju dalam pilkada memang dorongan beliau juga saat masih menjadi ketua MUI, Kita sangat kehilangan,” ujar Bupati Yes.
Menurut Bupati Yes, Kiai Aziz merupakan ulama kharismatik yang banyak memberikan teladan dan pencerahan untuk kemajuan Lamongan. Secara pribadi, Bupati Yes sering berkonsultasi dan berdiskusi, baik di pondok maupun kegiatan tertentu. “Saya yakin, kehadiran dan seluruh pengabdian beliau sangat dirasakan masyarakat Lamongan,” tutur Bupati Yes.
Kepergian sang kiai tak hanya meninggalkan lubang menganga di hati keluarga, bupati, dan para santrinya, tetapi juga pada catatan sejarah Lamongan. Kiai Aziz adalah sosok langka yang mampu meniti titian duniawi dan ukhrawi dengan seimbang di bawah langit pengabdian.
Di panggung politik, sebagai kader tulen Partai Persatuan Pembangunan (PPP), beliau pernah menakhodai DPC PPP Lamongan dan mendedikasikan dirinya sebagai anggota dewan sejak 1971 hingga 2000.
Namun, ketika jubah politik itu dilepas, Kiai Aziz kembali ke khitah sejatinya: menjaga moral umat. Kiprahnya di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lamongan terbentang panjang selama tiga periode, sejak 2012 hingga masa khidmat yang sedianya berakhir pada 2027 nanti.
Wakil Ketua MUI Kabupaten Lamongan, KH Said Humaidy, mengatakan, seluruh masyarakat Lamongan kehilangan sosok panutan. Dia mengibaratkan Kiai Aziz sebagai jimat. Kiai Aziz sudah melewati seluruh lorong dan sepanjang jalan di Lamongan dengan barokah dan doa. Selama dua periode mendampingi Kiai Aziz sebagai pengurus MUI, banyak ilmu dan teladan yang bisa diikuti. Dia mencontohkan Kiai Aziz yang dikenal sangat demokratis dan menerima setiap masukan. Juga selalu terbuka dan istiqomah dalam memimpin. “Saya sempat didawuhi untuk mewakili saat beliau uzur, pesannya punya gagasan apapun silakan disampaikan, supaya teman - teman mengikuti,” ujarnya.
Firasat Hari Terbaik
M. Chusnul, salah satu putra almarhum, mencoba menata kepingan memori yang berhamburan. Dia menceritakan bahwa kesehatan sang ayah mulai teruji sejak sebelum Idul Fitri akibat terjatuh di kamar mandi. Sejak saat itu, takdir membawa sang kiai keluar masuk ruang perawatan rumah sakit.
Puncaknya terjadi pada malam 1 Muharam. Kondisi sang kiai kembali menurun. Sempat membaik dan diperbolehkan pulang setelah seminggu perawatan, sebuah firasat spiritual yang menggetarkan hati mulai terbaca oleh keluarga pada Selasa (23/6). Hari itu, Kiai Aziz mengira hari Jumat. Kondisinya kemudian drop lagi.
"Saya ingat betul, sebelum meninggal beliau terus menanyakan hari Jumat, karena biasanya hari tersebut salat Jumatan," kenang putra ke-7 saat ditemui di rumah duka.
Seolah-olah, jiwa sang kiai memang sudah berjanji dengan langit untuk menjemput kepulangannya tepat di hari yang penuh berkah itu. Sebelum menutup mata untuk selamanya, tidak ada wasiat megah yang ditinggalkan. Sang kiai hanya menitipkan pesan sederhana namun mendalam: meminta seluruh anaknya untuk selalu rukun dan menjaga persaudaraan. (rka/mal/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma